Senin, 29 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #21





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #20


* * *


Anna berdiri diam di balik vitrase jendela kamarnya di lantai dua, tepat di atas pet shop. Dia tercenung ketika melihat sebuah mobil yang dikenalnya betul meluncur masuk ke lahan parkir di seberang jalan. Matanya terus mengikuti hingga mobil itu berhenti di sebuah sudut.

Debar di dadanya terasa meliar ketika dilihatnya sosok itu keluar dari dalam mobil dan melangkah yakin menuju ke ruko tempat Adita membuka usaha. Pelan Anna meletakkan kedua telapak tangannya di dada. Seolah mencoba untuk menenangkan jantungnya.

Seandainya...

Kamis, 25 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #20





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #19



* * *



“Mas, sudah berapa minggu nggak pulang ke Jakarta?”

Rafael mengangkat wajah, mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ditatapnya Hartono sejenak.

“Ada sebulanan, Pak,” jawabnya lirih.

“Mas Rafa kerja terlalu keras, sampai sakit.”

“Saya sudah nggak apa-apa kok,” dicobanya untuk tersenyum.

Senin, 22 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #19





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #18



* * *



“Aku heran kali ini seleramu lain dari biasanya.”

“Selera apa?”

“Selera terhadap cewek.”

“Lain bagaimana?”

“Biasanya kan kita suka cewek yang sama.”

Sabtu, 20 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #18





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #17



* * *


Steve tak jadi membuka lebar-lebar pintu garasi. Tampaknya malam ini dia harus cukup puas memarkir mobilnya di carport. Di dalam garasi sudah ada mobil Rafael, berdampingan dengan mobil mamanya. Nyaris tanpa suara, dia kemudian menutup dan menggembok pintu pagar.

Hening menyergap ketika dia masuk ke dalam rumah. Jarum jam dinding di ruang tengah hampir berhimpitan di angka 12. Dia menoleh ketika hendak membuka pintu kamarnya dan mendengar pintu kamar sebelah terbuka dari dalam.

Rabu, 17 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #17





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #16



* * *


Entah pesona apa yang dimiliki oleh Steve, begitu saja Anna sudah terjebak di dalamnya. Dan itu adalah tentang Steve. Bukan lagi Rafael. Ataukah dia membayangkan sosok Rafael dalam diri Steve? Anna berusaha untuk mengingkari kemungkinan itu.

Steve selalu membawanya dalam keceriaan yang nyaris tak pernah terbayangkan sebelumnya. Menyeretnya larut dalam sensasi dan petualangan yang baru. Membuat setiap harinya jadi lebih berwarna.

Apakah ini yang dinamakan cinta?

Kamis, 11 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #16





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #15



* * *



Rafael menjabat uluran tangan Mega dengan tenang. Berusaha tenang. Diulasnya senyum.

“Baik. Kamu sendiri?”

Mega mengangguk, “Baik juga.”

“Oh ya, kenalkan,” Rafael melepaskan genggaman tangannya, kemudian menggamit lengan Adita, “ini Adita.”

Rabu, 10 Juni 2015

RIP Angeline







Aku tak mengenalmu
Kau pun tak mengenalku
Aku baru tahu kau ada saat berita kehilanganmu merebak

Senin, 08 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #15





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #14



* * *



“Semuanya ini benar-benar membuatku tak nyaman,” keluh Anna sambil menyuapkan sesendok puding ke dalam mulutnya.

Adita menatapnya dengan iba. Sesungguhnya dia merasakan hal yang sama. Hanya saja, mengakui perasaan itu pada Anna secara jujur berarti dia sedang membuka kedoknya sendiri. Dan itu sangat membahayakan Rafael.

Sabtu, 06 Juni 2015

[TELEPORTER] Great Grandparents To Be







“Anda akan menikah dengannya. Costas.”

Gendis tercenung menatap ke arah panggung.

“Saya cicit Anda.”

Gendis tersentak mendengar gemuruh suara tepuk tangan di sekelilingnya. Sekilas ia melirik ke kiri dan ke kanan sebelum turut memberikan tepuk tangannya pada peserta audisi terpilih. Costas.

Kamis, 04 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #14





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #13



* * *


“Oke, Mbak! Aku ke situ sekarang.”

Anna pun menutup pembicaraan dan mengantongi ponselnya. Beberapa saat kemudian dia sudah pamitan pada salah satu anak buahnya dan keluar dari pet shop. Tujuannya cuma satu. Warung Adita di seberang jalan.

Sesampainya di sana, Anna melenggang masuk dan segera menemukan Adita yang melambaikan tangan dari arah meja di sudut. Ke arah itulah dia melangkah.

Senin, 01 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #13





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #12



* * *


“Hai!”

Anna mengangkat wajahnya. Dia lagi, gumamnya jengah. Tapi sosok yang muncul di depannya itu segera mengumbar senyum yang... Sebenarnya menarik juga, Anna menggumam lagi dalam hati.

“Apa kabar?”

“Baik,” jawab Anna, pendek.

“Perasaan dingin ya, di sini?” Steve nyengir sambil menggosokkan kedua telapak tangan di lengan atasnya.