Rabu, 23 September 2015

[Cerbung] CUBICLE #13





Kisah sebelumnya : CUBICLE #12



* * *



Tiga Belas


Kalau sebelumnya aku cukup menggebu untuk terlibat langsung dalam penggarapan iklan Multijossgandos, sekarang aku memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya urusan itu ke bagian produksi. Secara profesional memang seharusnya begitu. Dan setelah kejadian tak mengenakkan dengan geng sarap hampir seminggu yang lalu, aku mencoba untuk ‘bersikap profesional’ dan ‘mengesampingkan urusan pribadi’.

Sesuai kesepakatan, shooting iklan itu akan dilakukan di lapangan belakang gedung apartemenku. Semua ijin atasan dan perangkat yang berhubungan dengan regu satpam itu sudah beres diurus Bara. Shooting akan dilakukan Sabtu pagi besok, dan sejak beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk pulang ke Bandung hari ini, seusai jam kantor. Dan ijin cutiku selama seminggu sudah disetujui Boss Lenny.

“Gue denger lu mau pulang ke Bandung, Sas? Cuti?” Nina berdiri di sebelah kursiku.

“Iya,” jawabku singkat sambil memberesi barang-barangku.

“Kapan berangkat?”

“Bentar lagi.”

“Lu nggak mau liat shooting-nya besok, Sas?”

“Enggak.”

“Lu masih marah ya, Sas?” suara Nina terdengar memelas.

“Marah? Enggak. Ilfil, iya,” ucapku lugas.

Dan Nina tak lagi bisa berbuat apa-apa saat aku berlalu menuju basement begitu alarm jam pulang berbunyi. Mungkin aku kekanakan. Tapi biarlah, aku akan menarik diri dulu supaya suasana jadi agak dingin.

* * *

“Lu mau ke mana?”

Aku menoleh dan mendapati Driya tengah menatapku dengan kening berkerut. Dia berdiri di samping mobilnya, yang baru kusadari parkirnya adu pantat dengan mobilku. Kuikuti arah pandangnya kemudian.

Bagasi mobilku terbuka lebar. Terlihat penuh berisi sebuah travel bag yang gembung, dua buah dos berisi aneka cemilan buat keponakan-keponakanku, dan laptop yang baru saja kumasukkan. Aku nyengir sambil menutup pintu bagasi.

“Mau pulang ke Bandung.”

“Kok mendadak? Ada apa?” Driya mengerutkan keningnya lagi.

“Mendadak gimana? Ngajuin cuti seminggu kan nggak bisa mendadak juga, Men.”

“Oh... Lu mau cuti seminggu?” Driya melebarkan matanya.

“Yup!” aku mengangguk.

“Kok lu nggak bilang ke gue?”

Aku terbengong sesaat. “Maksud lu?”

“Maksud gue,” Driya mengerjapkan mata, “kan gue bisa ikut, sekalian anterin lu. Gue kan pengen juga ketemu ayah sama bunda lu.”

“Lha...,” aku menggaruk kepalaku. “Kalo lu anterin gue, terus gue baliknya ke sini gimana?”

“Ya gue jemput lagi minggu depan,” Driya nyengir marmut.

“Ribet ah!” aku tergelak ringan. “Lagian kalo keponakan-keponakan gue minta jalan-jalan gimana? Lu anterin gue, gue jadi nggak ada mobil dunk!”

“Hm...,” Driya manggut-manggut. “Ya udah, kalo gitu gue aja yang nebeng lu.”

“Hah?” aku terbengong. “Maksud lu?”

“Iya... Gue ikut lu ke Bandung. Mobil gue biar di sini. Tar gue titipin ke security. Gue cabut dari Bandung naik travel aja ke sininya. Palingan Minggu siang gue balik ke sini.”

“Lu serius?” aku melebarkan mata.

“Serius!” Driya mengangguk mantap.

“Baju ganti lu?”

“Ada di mobil. Gue selalu sedia buat kebutuhan 2-3 hari. Udah kebiasaan. Biar nggak ribet kalo mendadak gue nggak sempat pulang.”

“Oh...”

“Ya udah, gue kasih tau security dulu. Lu tunggu bentar ya?”

Tak ada hal yang bisa kulakukan selain mengangguk. Begitu Driya berlalu, aku pun segera menghubungi bundaku.

“Bun, inget nggak aku pernah cerita ketemu lagi sama Driya?”

“Iyaaa...,” suara Bunda terdengar antusias di seberang sana. “Gimana kabarnya?”

“Ini mau ikut aku pulang ke Bandung, Bun.”

“Hah? Serius?”

“Iya, serius. Ini udah mau berangkat.”

“Duh... Bunda jadi penasaran pengen liat kayak apa Driya sekarang.”

“Hehehe... Tapi susah ya, cari hotel weekend gini?”

“Ngapain di hotel? Udah, suruh aja tidur di sini. Kamarnya masmu Giri kan kosong.”

“Mas Riksa jadi pulang?”

“Jadi. Tapi besok, nggak malam ini.”

Kulihat Driya berjalan kembali ke arahku dengan wajah cerah. Aku pun segera mengakhiri pembicaraan dengan bundaku.

“Gimana?” tanyaku sambil mengantongi ponsel.

Driya menjawab dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.

“Sas!”

Aku menoleh. Fajar berlari ke arahku. Melihatnya, aku segera menepuk kening. Ah! Hampir saja aku melupakan sesuatu. Untung keinginan Driya untuk ikut bersamaku menunda keberangkatanku.

“Mana kunci lu?”

“Hehehe... Iya ya, gue lupa.”

Maka aku pun menyerahkan kunci apartemenku pada Fajar. Sudah biasa aku dan Fajar saling menitipkan kunci apartemen kalau salah satu dari kami pergi selama beberapa hari. Kalau sempat, kami akan saling membersihkan apartemen yang ditinggalkan penghuninya. Kalaupun masih bersih, hanya tinggal membuka semua jendela selama beberapa saat agar sirkulasi udara tetap lancar.

“Lho, lu ke Bandungnya sama Driya?”

“Iya,” aku tersenyum lebar.

“Tanpa rencana, gue nemplok gitu aja, hehehe...,” Driya terkekeh.

“Ya udah deh,” Fajar mengacungkan jempol. “Ati-ati di jalan ya? Dri, nitip sohib gue yak?”

“Sip!”

Setelah Driya mengambil perlengkapannya dan mengunci mobilnya baik-naik, kami pun masuk ke dalam mobilku. Driya langsung duduk di belakang setir. Tak langsung berangkat, karena Driya lebih dulu sibuk menyetel posisi jok.

“Astaga... Mobil lu sempit amat sih, Yik,” gumam Driya.

Aku tergelak. “Hahaha... Ini sih bukan mobil gue yang mini. Elunya aja yang kegedean. Lagian lu biasanya bawa SUV, jadi kegencet bawa city car.”

Driya terbahak sambil kakinya mulai menekan pedal gas. Saat mengantri untuk keluar dari basement, dia mengambil ponsel dari saku kemejanya dan menyerahkannya padaku.

“Tolong lu pesenin kamar via TravelOke, Yik. Buat gue nginep malem ini sama besok.”

“Lha, ngapain? Sama Bunda, lu disuruh nginep aja di rumah gue. Bekas kamar Mas Giri kan kosong.”

“Wah, jadi sungkan gue...,” Driya meringis sekilas.

“Halaaah... Kayak sama orang lain aja...”

“Hehehe...”

* * *

Hampir pukul sepuluh malam mobilku baru masuk ke carport. Itu pun setelah Bunda bolak-balik meneleponku, menanyakan posisiku sudah sampai di mana. Jalur Jakarta-Bandung pasti banyak macetnya saat akhir pekan seperti ini.

“Anak-anak nggak mau pulang,” Bunda menunjuk Olin dan Josh yang tengah terlelap di sofa ruang tengah. “Nungguin kamu.”

Kudekati kedua keponakanku itu, anak-anak Mas Giri. Ketika kugelitik kaki mereka, pelan-pelan mereka membuka mata. Senyum keduanya langsung merekah melihat kedatanganku. Dan kuterima pelukan keduanya dengan senang hati.

Driya langsung sibuk mengeluarkan barang-barangku dari bagasi dan mengangkatnya masuk ke dalam rumah. Ketika Ayah dan Bunda memeluknya bergantian, Driya tertawa meriah. Terlihat sekali Ayah dan Bunda takjub dengan transformasi Driya. Begitu juga Mas Giri, yang ternyata ikut menginap karena anak-anaknya tak mau pulang sebelum aku datang. Ditepuknya lengan Driya berkali-kali sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Udah makan?” tanya Bunda.

Aku dan Driya menggeleng bersamaan. Bunda melebarkan matanya.

“Udah ngemil roti, Bun,” jawabku cepat sebelum Bunda menceramahiku. “Aku sih lumayan kenyang. Tapi kingkong yang satu ini udah hampir kurus kering gara-gara belum makan malam, hihihi...”

Kulihat Driya nyengir mendengar candaanku. Bunda tertawa sambil mendorong bahu Driya.

“Udah... Kamu mandi dulu, Dri. Biar ditunjukin Sasi di mana kamarmu.” Kemudian Bunda menoleh padaku. “Pakai kamar Mas Riksa aja, kamar Mas Giri dipakainya sendiri.”

“Lha, kalo Mas Riksa besok dateng? Gimana?”

“Ya biar tidur di kamar Mas Giri. Besok biar Bunda usir Mas Giri. Wong punya rumah sendiri kok...,” Bunda tersenyum lebar.

Rupanya gara-gara Olin dan Josh tak mau pulang, akhirnya Mas Giri dan Mbak Nesti sekalian saja menginap. Padahal rumah mereka tak jauh. Hm... Meriah betul rumahku malam ini. Sayangnya, Mas Riksa baru bisa bergabung besok.

Malam terus merangkak naik. Kami masih meneruskan obrolan di meja makan. Mas Giri yang seolah mendapat teman bergembul-ria menikmati supper jadi bersemangat mengunyah lagi. Hampir jam dua pagi kami baru mengakhiri semuanya.

Aku menggendong Josh dan Mas Giri menggendong Olin ke kamarku. Keduanya akan tidur bersamaku malam ini.

* * *

 Bersambung ke episode berikutnya : CUBICLE #14



7 komentar: