Senin, 28 September 2015

[Cerbung] CUBICLE #15





Kisah sebelumnya : CUBICLE #14



* * *


Lima Belas


Kamis menjelang siang, ketika sedang menunggu Josh keluar dari sekolah TK-nya, notifikasi email di ponselku berbunyi. Ketika kuperiksa, ternyata dari Bang Togi, Kabag Produksi MemoLineAd. Dia mengirimiku beberapa copy file rekaman hasil shooting Bara dengan pasukan satpamnya. Dalam email itu dia menjelaskan bahwa semuanya masih mentah. Menunggu aku selesai cuti untuk diolah bersamaku. Atau kalau aku ada waktu, dipersilakannya aku untuk menyuntingnya lebih dulu sesuai keinginanku.

Hm... Biarpun aku libur dan berada di rumah, pekerjaanku paling top adalah bermalasan saja karena Ayah dan Bunda tetap aktif melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Paling-paling aku keluar rumah pagi-pagi untuk menggantikan Mas Giri atau Mbak Nesti mengantarkan Olin dan Josh ke sekolah, kemudian pulang atau sekadar putar-putar saja, kemudian jalan lagi untuk menggantikan Ayah atau Bunda menjemput Josh yang pulang sekolah pukul sepuluh, jalan-jalan dengan Josh sambil menunggu waktunya menjemput Olin pukul dua belas, lalu kembali ke rumah bersama Olin dan Josh, karena keduanya harus menunggu mama-papanya pulang kerja.

“Tante!” tahu-tahu Josh sudah berdiri di samping mobilku.

“Hai, jagoan!” aku pun toss dengan Josh.

Setelah memastikan Josh sudah duduk dengan baik dan manis, aku pun mulai meluncurkan mobilku.

“Ke mana nih, kita?” tanyaku pada Josh.

“Makan es krim,” Josh nyengir jahil.

Tak tahan, kukacaukan rambut di puncak kepalanya. Josh terkikik geli.

“Nanti aja kalau Kak Olin udah pulang, kita beli es krim sekotak di minimarket deket rumah Eyang. OK, boy?”

That’s my lovely auntie,” ucap Josh dengan ekspresi lebay, membuatku terbahak seketika.

* * *

Setelah Olin dan Josh menyelesaikan makan siang dan mengudap es krim sepuasnya, Olin menunggu waktu tidur siang pukul dua dengan mengerjakan PR-nya. Josh pun ikut sibuk dengan buku gambar dan pensil warnanya. Kulihat gambarnya sudah mulai berkarakter.

Sambil menunggui keduanya, aku pun membuka laptop dan mengunduh file yang tadi dikirimkan Bang Togi. Sesekali Olin bertanya tentang soal PR yang tak dimengertinya. Menjelang pukul dua, Ayah datang bersama Bunda.

“Dari mana sih?”

“Lembang,” jawab Ayah dengan wajah tanpa dosa.

Oh... I see! Kencan siang hari rupanya... Aku mengulum senyum. Bunda tersipu menatapku.

“Ini idenya Ayah lho, ya?” ucap Bunda, seolah membela diri, padahal aku tak mengatakan apa-apa.

“Mumpung ada nanny gratisan buat jagain Olin dan Josh,” Ayah mengedipkan sebelah matanya.

“Lho, ya nggak apa-apa,” senyumku melebar. “Kencan sama pasangan sendiri kan lebih baik daripada sama suami atau istri orang lain.”

Ayah menjatuhkan badannya di sisiku, sementara Bunda menggiring Olin dan Josh untuk tidur siang. Sejenak kemudian Bunda bergabung kembali.

“Film apa itu?” Bunda menunjuk layar laptopku.

“Bukan film, Bun,” gumamku. “Ini hasil shooting iklan yang lagi aku garap. Baru tadi dapat kiriman file-nya. Shooting-nya sih hari Sabtu kemarin pas aku udah di sini.”

“Oh...,” Bunda manggut-manggut. “Lho, itu kok kayak Bunda kenal? Temenmu itu bukan?” Bunda menunjuk ke layar laptopku.

“Iya, Bara,” jawabku. “Aku minta jadi bintang iklannya.”

“Ganteng ya? Kayak ayahmu waktu masih muda dulu.”

Aku tergelak. “Emangnya Ayah sekarang udah nggak ganteng?”

“Udah kisut,” bibir Bunda mengerucut lucu, membuat Ayah dan aku terbahak.

“Kisut-kisut juga bundamu masih nempel terus kok...,” ledek Ayah.

“Lha punyanya cuma itu,” Bunda meringis tak jelas.

Kalau sudah kayak gini, baru kelihatan kan, dari mana asal koplak (kadang-kadang)-ku berasal?

* * *

Aku belum memutuskan akan memotong adegan-adegan yang mana saja. Masih sibuk menata hati sambil melihat-lihat lagi hasil shooting itu di ruang kerja Ayah. Bang Togi mengirimkan semuanya. Dari file ‘resmi’, file ‘dibuang sayang’, sampai file ‘di balik layar’. Seolah Bang Togi tak rela aku ketinggalan setiap momen ketika Bara ‘diperkosa’ untuk jadi model iklan.

Dari file ‘di belakang layar’, aku melihat semua geng sarap, kecuali aku, hadir untuk menonton. Bahkan Boss Lenny dan Pak Stefan, suaminya, pun ikut nongol di layar. Nina pun ada juga, menggandeng Mas Tony yang menggendong Rira. Bahkan baby Disty-nya Gerdy dan Arlia pun tak mau ketinggalan ikut diboyong juga jadi penggembira.

Sesungguhnya, diam-diam, aku merasa kehilangan momen yang sebetulnya terlalu berharga untuk dilewatkan itu. Walaupun Bang Togi sudah mengirimiku rekaman selengkap-lengkapnya, tapi tetap terasa lain karena aku tak hadir secara langsung di sana.

Tapi itu kan sudah jadi pilihanku. Aku sama sekali tak boleh menyesalinya. Dan yang bisa kulakukan sekarang adalah memelototi sepuasnya sosok Bara yang muncul jadi bintang di hampir semua file yang kupunya.

Sambil bertopang dagu, aku menatap tanpa kedip pada sosok Bara di layar laptopku. Dia tengah melepas kaos polo yang dipakainya untuk diganti dengan baju karate. Dadanya sungguh bidang walaupun six-packs-nya tak telalu terlihat. Sosoknya tampak kukuh dan mempesona. Apalagi dia tersenyum malu-malu ke arah kamera yang tengah menyorotnya. Duh, menggemaskan!

Tapi... Uh! Kenapa mendadak hidungku error dan seolah membaui aroma wangi hangat cinnamon khas Bara? Aku buru-buru menggelengkan kepala.

Take pertama langsung gagal. Bara benar-benar grogi sampai dialognya salah semua. Padahal pasukan satpam di belakangnya terlihat sudah sangat siap. Baru pada take kelima semuanya berjalan dengan sempurna.

Ketika aku berpindah pada file ‘di balik layar’, banyak percakapan dan adegan yang terekam kamera dengan baik. Yussi yang tengah mendandani Bara, Fajar yang berjoget-joget ceria sambil menggendong Rira, Boss Lenny dan Pak Stefan yang tengah asyik berdebat sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di tepi lapangan, tim make-up yang tengah memoles penampilan pasukan satpam, Bang Togi yang mengobrol dengan boss pasukan satpam itu, dan terakhir adalah Bara yang sudah kembali berganti mengenakan kaos polonya tengah menggendong baby Disty sambil tersenyum lebar ke arah kamera.

Aku tercekat menatapnya. Sebuah penutup yang sama sekali tak pernah kusangka akan melihatnya. Menimbulkan debar yang luar biasa liar dalam hatiku.

* * *

Untuk terakhir kalinya aku menatap sejenak semuanya yang tertata rapi dalam bagasi mobil mungilku. Nyaris persis sama dengan saat aku meninggalkan Jakarta minggu lalu. Sebuah travel bag gembung, dua buah dos yang kali ini berisi oleh-oleh buat seluruh rekan sekantorku, dan sebuah laptop. Masih tersisa sebuah lagi travel bag gembung penuh berisi baju baru hasil perburuanku selama liburan, dan sebuah dos kecil berisi aneka lauk kering yang khusus dibuat Bunda untuk Driya. Dua benda yang terakhir ini terpaksa duduk manis di jok belakang karena sudah tak muat lagi di bagasi.

Kupeluk semuanya yang hendak melepasku kembali ke Jakarta. Ayah, Bunda, Mas Giri, Mbak Nesti, Olin, dan Josh. Setelah memastikan semuanya pas dan memasang sabuk pengaman, aku pun mulai meluncurkan Brio-ku meninggalkan rumah diiringi lambaian tangan semua orang yang kusayangi. Kuterjang panasnya mentari hampir pukul satu siang untuk kembali ke kerumitan kota Jakarta.

Kemacetan akhirnya menyambutku di ruas tol sekitar Cikarang. Mobilku tak lagi bisa merambat. Tarafnya kini sudah sampai ke setengah ngesot. Apalagi matahari sudah mulai menggelincir ke Barat. Menambah panas udara dalam kabin mobilku. Memaksaku menambah level pendingin udara.

Saat itu aku ingat sesuatu. Ketika mobilku sama sekali tak bisa bergerak untuk beberapa menit, aku pun meraih ponselku yang tergeletak di jok sebelah, tertutup kantong berisi cemilan dan minuman.

“Halo, Yik!” terdengar sahutan dari seberang sana setelah beberapa saat ada nada tunggu.

“Lu di rumah, Men?”

“Iya. Lu masih di Bandung?”

“Enggak, gue udah di jalan. Udah di Cikarang. Astagaaa... macetnya!”

“Udah biasa di situ sih...”

“Bunda nitip lauk keringan buat lu. Gue samperin ke rumah lu yak?”

“Halaaah... Repot amat?”

“Enggaklah. Kirimin alamat lengkap lu gih! Tar gue stel di GPS. Sekalian aja gue mampir ke rumah lu sambil istirahat. Capek tau, kena macet gini.”

“Oh... Ya udah, bentar gue kirimin alamat gue. Check WA yak?”

“Sip!”

Tak lama kemudian alamat lengkap Driya sudah sampai di tanganku. Sambil terus merayap, aku mencari jalurnya via GPS di ponselku. Gotcha! Kelihatannya jalur ke rumah Driya tak terlalu ruwet. Kulirik jam digital di dashboard. Pukul empat lewat tujuh.

Astaga... Sudah nyetir tiga jam lebih dan baru sampai di Cikarang? Aku bisa kolaps kalau tidak mampir dulu ke rumah Driya di Pondok Gede.

* * *

Benar saja! Mudah sekali mencari rumah Driya. Hanya saja perlu kesabaran yang lebih untuk membebaskan diri dari kemacetan. Dia sudah menungguku di depan rumahnya sambil menyirami tanaman di luar pagar. Wajah cerahnya menyambutku, meluruhkan sedikit kelelahan yang kupunya.

“Lu mau mandi dulu?” ucapnya sambil menerima dos kecil titipan dari Bunda. “Makasih ya?”

“Hm... Boleh deh!” aku pun mengangguk. “Gerah juga rasanya.”

Rumah kecil yang ditinggali Driya sangat minimalis, tapi rapi dan apik. Membuatku berdecak kagum, apalagi ketika aku tahu dia benar-benar tinggal sendirian di sana. Tanpa ART. Perabotnya juga minimalis, sekaligus sangat fungsional. Tak banyak pernik, memberi kesan lega dan nyaman.

Driya mempersilakan aku mandi di kamar mandi dalam kamarnya, supaya lebih praktis kalau aku hendak berdandan. Setelah kukunci kamar itu dari dalam, aku pun menyempatkan diri mengedarkan tatapan berkeliling.

Hanya ada beberapa benda fungsional di dalam kamar yang kira-kira berukuran 4x6 meter itu. Satu spring bed ukuran king dengan bed cover bermotif loreng macan, sebuah meja tulis dan kursinya, sebuah sofa panjang dekat jendela, dua buah lemari baju, dan seperangkat home theatre menemani televisi layar datar 42 incinya. Semuanya bernuansa warna tanah. Coklat, krem, hitam. Sangat maskulin.

Kamar mandinya juga nyaman. Kecil, tapi lengkap dan sangat bersih. Membuatku ingin berlama-lama di dalamnya, kalau saja aku tidak ingat hanya menumpang sejenak di tempat ini.

Ketika aku sudah rapi dan keluar dari dalam kamar, secangkir teh lemon hangat sudah menungguku di atas meja pantry. Kuletakkan tasku di dekat kaki kursi yang kududuki. Aroma sedap nasi goreng menggelitik hidungku.

“Repot amat lu, Men?” celetukku.

“Andalan gue cuma nasgor, Yik,” dia meringis. “Lu mau telur ceplok apa dadar?”

“Apa aja, asal mateng.”

Driya terkekeh mendengar jawabanku.

Sebentar kemudian kami sudah menikmati nasi goreng udang dan telur dadar hasil racikan Driya. Enak. Banget. Atau karena aku lapar?

“Udah seger lu, abis liburan di Bandung?”

Aku mengangguk sambil terus mengunyah.

“Hm... Hari Rabu kemarin gue terpaksa numpang rebahan di apartemen Fajar,” Driya nyengir. “Capek banget gue. Untung dia nggak keberatan. Malah nyaranin gue, besok-besok kalo mau nginep di apartemennya aja, jangan di tempat lu. Lu kok nggak cerita sih, kalo abis ribut sama temen-temen lu gara-gara kejadian gue nginep itu?”

Aku menatap Driya. “Fajar yang cerita?”

Driya mengangguk. “Fajar kasian sama lu, Yik. Dia ngerti banget lu orangnya kayak apa. Makanya dia nggak pingin lu dicap buruk sama sohib-sohib lu yang lain.”

Kuhela napas panjang. “Kalo gue sih, Men, prinsip gue terserah mau dibilang apa. Toh Tuhan tau niat gue gimana. Gue lebih seneng liat lu sesekali istirahat atau nginep di apartemen gue daripada lu maksain jalan sementara badan lu capek. Gue nggak mau liat lu celaka di jalan. Soal sohib-sohib gue mau bilang apa, terserah! Gue udah males mikirin lagi. Yang penting gue masuk di MemoLineAd buat kerja. Prinsip gue, gue tau bener apa yang gue lakuin, dan gue bertanggung jawab atas itu. Gue pikir lu orangnya juga sama kayak gue. Nggak sembarangan berbuat.”

“Ya iyalah, Yik. Kita kan udah bukan ABG lagi yang ada kecenderungan suka ngiler mau ngicipin perbuatan yang enggak-enggak,” senyum Driya.

“Ngomong-ngomong, lu udah ada ancang-ancang buat mulai cari calon bini baru?”

“Ya... gue masih laki-laki normal, Yik. Ancang-ancang sih udah mulai. Tar kalo gue udah bener-bener nemu orang yang tepat, udah gue lamar, gue minta tolong lu simpenin cincin kawin gue yak?”

“Hah?! Kok gue sih?” aku sedikit terlonjak kaget.

“Ya... Elu kan sohib gue, Sas. Gak tau kenapa gue pikir lu orang yang tepat buat gue titipin cincin kawin gue.”

“Hm...,” aku termangu sesaat, tak tahu harus menjawab bagaimana.

“Eh, Yik, menurut lu, Yussi orangnya kayak gimana?”

Aku menatap Driya. Lama.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : CUBICLE #16



4 komentar:

  1. ya ampyuun Driyaa... kok nyasar ke Yussi siiih?? Driya gitu yaa.. semut di depan mata gak kelihatan, giliran nyamuk (yussi)
    yg jauuuh malah kelihatan.

    BalasHapus
  2. Bagus juga sih kalau Yussi, biar Sasai buat Bara :)

    BalasHapus
  3. duuuh..kok ganteng-ganteng...semua...jadi bingung deeh milihnya...

    BalasHapus