Senin, 23 Mei 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #1





Satu


Jakarta again...

Kuhirup dalam-dalam udara Jakarta. Hm... Walaupun sedikit menyesakkan dada, tak apalah. Harus tak apa-apa. Karena sampai kapan pun, rasa-rasanya udara Jakarta tidaklah akan pernah sesegar udara Ubud yang baru saja kutinggalkan. Dan kini, di sinilah terminal terakhirku.

Jakarta...

Aku harus menghitung-hitung dulu kapan terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Aku memang lahir di Jakarta, tapi sebagian besar hidupku habis di mancanegara. Bukannya sombong, tapi itulah nasibku sebagai anak seorang diplomat. Terakhir, aku menghabiskan waktu hampir enam tahun di Australia. Menyelesaikan S1 dan S2-ku di sana. Dan sekarang semuanya sudah selesai.

Jakarta, aku kembali...

“Pluk!”

Aku tersentak dan menoleh.

“Yakin kamu mau langsung ke rumah Eyang?” tanya Mbak Witra. “Nggak puter-puter dulu? Atau mau mampir ke mana, gitu?”

Aku menggeleng, “Langsung saja.”

Satu-satunya rumah yang kutuju cuma rumah eyangku, rumah Kakung dan Uti. Rumahku ada tepat di sebelah rumah Eyang, sebenarnya. Tapi berhubung saat ini Papa masih bertugas di Spanyol didampingi Mama, maka rumah kami dikontrakkan. Yang menempati biasanya ekspatriat. Jadilah untuk sementara ini nasibku terdampar di rumah Eyang. Sendirian. Karena kedua adikku masih berada di Amerika Serikat dan Singapura untuk melanjutkan kuliahnya. Benar-benar keluarga yang tercerai-berai. Di situlah terkadang aku merasa sedih.

Sebenarnya aku bebas memilih mau tinggal di mana. Seluruh keluarga besar Papa sudah menawarkan rumah mereka untuk jadi tempat tujuanku pulang. Tapi tetap saja aku merasa paling nyaman berada di rumah Eyang. Lagipula semua barang pribadiku sudah terlanjur kupaketkan ke rumah Eyang. Keluarga Mama? Hm... Mamaku anak tunggal, dan Opa-Oma dari Mama sudah meninggal semua.

“Okelah, kalau begitu,” Mbak Witra segera menarikku agak ke pinggir untuk menunggu antrean taksi bandara.

Mbak Witra adalah kakak sepupuku, anak sulung abang Papa. Usia kami terpaut dua tahun, lebih tua dia. Aku memang paling akrab dengannya. Seminggu lalu dia menjemputku. Di Bali. Aku terbahak ketika mengetahui akal bulusnya, mencatut namaku agar bisa liburan sejenak di Bali. Jadilah aku terbang dari Australia ke Bali, terdampar di Ubud selama satu minggu, barulah benar-benar pulang ke Jakarta.

Setelah menunggu hampir setengah jam, barulah datang giliran kami naik taksi. Mbak Witra mengembuskan napas lega setelah kami duduk di dalam taksi.

“Pluk, kamu terbiasa hidup di luar negeri,” celetuk Mbak Witra tiba-tiba, “yakin kamu bakal betah di sini?”

Aku tercenung sejenak. Sejujurnya, aku belum tahu. Mengarah ke tidak yakin. Tapi aku benar-benar ingin pulang. Merasakan Indonesia yang sebenarnya. Bukan hanya dari acara-acara yang diadakan kedubes atau konjen RI. Bukan hanya dari makanan Indonesia yang biasanya terhidang dalam acara-acara itu. Bukan hanya dari tampilan anjungan Indonesia yang sesekali muncul dalam festival atau expo di negara yang pernah kutinggali.

Dan sekarang aku sudah di sini. Pulang. Bukankah itu yang kuinginkan?

“Belum yakin, sih,” jawabku. Jujur. “Tapi kupikir aku pasti punya tempat di sini.”

“Hm... Kalau soal pekerjaan, kayaknya kamu nggak perlu khawatir,” Mbak Witra menepuk lembut punggung tangan kananku.

Aku tersenyum. Lucky me! Bahkan  tempo hari saat tesisku belum selesai kukerjakan, pekerjaan sudah menungguku di sini. Di perusahaan keluarga yang didirikan oleh Kakung. Perusahaan itu sekarang dipimpin oleh adik Papa yang sedari dulu memang sudah terjun langsung ke perusahaan membantu Kakung.

Dari lima orang putra-putri Eyang, satu-satunya yang masuk ke perusahaan itu hanyalah Om Nor. Budhe Danik, putri sulung Eyang, memilih untuk menjadi seorang dokter, internist. Memang Budhe Danik mengepalai rumah sakit yang berada dalam grup perusahaan, tapi tetap saja beliau adalah seorang dokter. Lalu adiknya, Pakdhe Mono – ayah Mbak Witra – lebih memilih untuk jadi seorang geologist. Bahkan saat ini sudah bergelar profesor. Di bawahnya lagi ada papaku. Lalu Om Nor. Dan tanteku yang bungsu, Tante Ninin, adalah seorang dosen merangkap ekonom di sebuah LSM. Selain itu artikel brilyannya di bidang ekonomi sering muncul di koran-koran nasional.

Beberapa tahun belakangan ini, sudah terjadi proses regenerasi di perusahaan keluarga kami. Sepupu-sepupuku sudah ada yang masuk. Dipelopori oleh Mbak Jani dan Mas Hasto, putra-putri Budhe Danik dan Pakdhe Juno. Lalu disusul Mas Nanda, adik Mbak Witra yang seumuran denganku, sudah mulai aktif beberapa tahun lalu sembari menyelesaikan kuliahnya. Kemudian Mas Ronny, adik bungsu Mbak Witra dan Mas Nanda, juga sudah mulai masuk sejak awal tahun ini. Sama seperti ketiga senior yang lain, sudah mulai meniti karir di Eternal sejak masih kuliah. Dan tampaknya akan segera tiba giliranku. Saat aku sudah sepenuhnya menyelesaikan pendidikanku. Mungkin kalau aku kuliah di sini, aku akan sama seperti mereka, sudah bertahun lalu masuk ke Eternal.

Pelan kutarik napas panjang.

“Kalau boleh aku kasih saran,” celetuk Mbak Witra lagi, “kamu jangan mulai aktif dulu. Nikmati dulu keberadaanmu di sini. Adaptasi. Kalau aku lagi senggang, nanti kutemani. Atau nanti aku suruh Nanda atau Ronny mengawalmu.”

“Kapan Mbak Witra sumpah dokter?” aku menoleh sekilas ke arah Mbak Witra.

“Jumat depan. Setelah itu aku harus mulai mengurus penempatanku.”

Hm... Tampaknya aku memang harus mengandalkan Mas Nanda atau Mas Ronny. Dengan catatan, mereka tidak sibuk. Selebihnya? Aku mengedikkan bahu. Teman? Aku mengedikkan bahu lagi.

Dengan sejarahku yang tak pernah lama tinggal di Jakarta, hingga detik ini aku belum juga memiliki teman yang bisa kuanggap sebagai sahabat di Jakarta ini. Apalagi aku selalu masuk ke sekolah internasional. Sekali lagi, bukan karena gaya-gayaan, tapi karena sistem itu mempermudah aku untuk pindah sekolah ke mana pun tempat Papa bertugas. Jadi, sementara ini para sepupulah yang masih berperan sebagai sahabatku.

Walaupun lebih sering hidup berjauhan, tapi aku tak pernah kehilangan keakraban dengan para sepupuku. Keluarga besar dari garis Papa ini memang sebuah keluarga yang rukun dan solid. Membuatku bersyukur boleh terlahir di dalamnya.

* * *

Langkahku terhenti begitu aku masuk ke rumah Eyang melalui ruang tamu. Aku setengah meringis, setengah geli, melihat spanduk besar yang terbentang lebar di perbatasan ruang tamu dan ruang makan.

Welcome  home,  Miss  Cempluk!

Namaku Arinda. Panggilanku Riri. Tapi seluruh keluarga besarku punya panggilan sayang tersendiri buatku. Cempluk. Sesuai dengan penampakan wajahku yang chubby-nya tak pernah berubah hingga detik ini.

Terhina? Sama sekali tidak. Aku justru merasa ada atmosfer sayang yang lebih ketika orang-orang terdekat memanggilku ‘Cempluk’. Ada keakraban yang begitu murni dan tak pernah dibuat-buat. Sesuatu yang membuatku selalu ingin pulang.

Dan berikutnya, pesta penyambutanku sungguh meriah. Seluruh keluarga besar Papa berkumpul di rumah Eyang untuk merayakan kepulanganku. Aduuuh... seperti menyambut anggota keluarga yang hilang saja! Tapi sungguh, aku terharu dengan suasana ini. Berada jauh dari Papa, Mama, dan adik-adikku ternyata tak pernah membuatku kehilangan keluarga.

Mataku melebar melihat tumpeng nasi kuning dengan aneka lauk melimpah di atas meja besar di tengah ruang makan. Belum lagi es cendol, es cincau, semua kue basah yang terhampar cantik di dekat tumpeng itu. Juga es puter yang masih ada di freezer, seperti yang dibisikkan Tante Ninin padaku tadi. Serasa aku berada di Surga. Ah! Kayak sudah pernah ke Surga saja! Hehehe... Kira-kira begitulah.

Tanpa menunggu lama, Uti segera memberi komando pada Pakdhe Juno untuk memimpin doa syukur kepulanganku. Tugas yang tak pernah meleset dari tangan Pakdhe Juno sebagai menantu tertua Eyang. Setelah doa itu usai, hurrraaa! Aku hampir tak sabar ketika Kakung memotong puncak tumpeng dengan hati-hati sebelum meletakkannya di atas sebuah piring, memilihkan semua lauk untukku, kemudian menyodorkan piring itu padaku. Lalu semuanya ramai-ramai berebutan untuk mengambil piring, sendok, dan makanan.

Betul-betul suasana riuh yang sangat aku rindukan! Apalagi fokus saat ini adalah aku. Tidak betah? Sepertinya tak akan ada perasaan itu.

“Kamu tak perlu buru-buru ngantor, Pluk,” ucap Om Nor yang duduk di sebelahku setelah mengambil makanannya. “Adaptasi dululah dengan semua situasi dan kondisi Jakarta. Kalau sudah bosan menganggur, barulah kamu masuk kerja. Supaya kamu bisa fokus dan tidak penasaran lagi.”

Aku geli juga mendengar kalimat-kalimat Om Nor yang diucapkannya dengan senyum lebar. Tapi benar juga! Kalau aku belum bisa beradaptasi dan masih penasaran dengan segala sesuatu di sini, pasti kerjaanku nanti juga kurang beres.

“Baiklah, Om,” ujarku kemudian, patuh.

“Kamu mau ke mana saja, tinggal bilang, Pluk,” timpal Pakdhe Mono dari seberangku. “Pasti sepupu-sepupumu mau menemani.”

“Iya, Pakdhe,” anggukku lagi.

Mungkin pada awalnya nanti aku masih memerlukan bantuan sepupu-sepupuku untuk lebih mengenal Jakarta. Tapi selanjutnya aku harus bisa mandiri. Tak mungkin mengandalkan orang lain untuk terus-menerus membantu mobilitasku. Lagipula kalau hanya soal menyetir mobil, Australia dan Indonesia sama saja, setir kanan. Tak perlu adaptasi lagi. Hanya perlu mengenal jalur-jalur pokok saja dulu untuk sementara waktu.

Angkutan umum? Hm... Boleh juga sesekali nanti mencoba. Kalau soal itu, aku tahu Kania-lah jagonya. Adik sepupuku yang satu ini aku tahu hampir selalu naik angkutan umum ke mana-mana. Umurnya baru lima belas tahun. Belum boleh membawa sendiri kendaraan pribadi oleh Om Nor dan Tante Laras. Dan dia langsung menatapku dengan mata berbinar ketika kuutarakan keinginanku.

“Tapi siap-siap sengsara ya, Mbak,” ucapnya dengan senyum lebar. “Panas, polusi, dan lain-lain.”

Aku mengangguk. Siapa takut?

* * *

Uti sudah menyiapkan kamar pribadi untukku. Kamar besar di belakang, di dekat ruang baca. Dan barang-barangku yang sudah sampai beberapa hari yang lalu sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing, kecuali barang-barang super pribadi yang kardus pembungkusnya sudah kutandai secara khusus.

“Kamu boleh mengubah susunan perabotnya kalau mau,” ucap Uti dengan mata berbinar.

Aku menggeleng. Mengubahnya? Menghilangkan cinta Uti  yang tercermin dari susunan perabot dalam kamar ini? Big no!

“Semua sudah pas pada tempatnya, Ti,” bisikku sambil memeluk Uti. “Terima kasih.”

Uti balas memelukku. “Sekarang rumah ini tidak akan sepi lagi.”

Entah kenapa, ucapan lirih Uti itu membuat mataku mengaca. Rumah sebesar ini memang hanya ditinggali Kakung, Uti, dua orang ART, dan seorang sopir merangkap tukang kebun. Dulu pasti ramai sekali dengan tambahan lima orang putra-putri Eyang. Sekarang semuanya sudah menjemput kehidupannya sendiri-sendiri. Walaupun aku tahu, setiap akhir minggu selalu saja ada yang berkunjung untuk menjenguk Eyang.

“Mana, Pluk?” tiba-tiba saja Mas Hasto muncul. “Katanya tadi suruh bantuin angkat kardus oleh-oleh?”

“Oh, iya, Mas!” aku melepaskan diri dari pelukan Uti. “Itu yang di dekat pintu.”

Mas Hasto segera mengangkat salah satu kardus keluar dari kamar. Tak lama kemudian Mas Nanda muncul juga bersama Mas Ronny. Keduanya segera mengangkat dua kardus lainnya yang aku tunjuk. Bersama Uti, aku kemudian mengikuti langkah Mas Nanda kembali ke ruang tengah. Di tanganku ada kardus keempat. Saatnya acara bagi-bagi oleh-oleh.

Semua yang kubawa hanyalah barang remeh-temeh. Gantungan kunci, topi, kaos oblong, tas, nampan, mug, botol minum, celemek, payung lipat, hiasan dinding, hiasan meja, bingkai foto, magnet hias, notes kecil, pensil, bolpen. Tapi aku melihat antusiasme seluruh keluarga besarku ketika ramai-ramai mengaduk kardus-kardus itu bukanlah hal yang basa-basi. Tak peduli akan harganya.

Diam-diam mataku mengaca ketika melihat semua itu. Wajah-wajah super cerah ketika menemukan ada yang unik dari oleh-oleh yang kubawa. Benar-benar keluarga tempat aku pulang.

Ketika semua itu usai, dan rumah sudah sepi kembali, Kakung dan Uti membiarkan aku menikmati kesendirian dalam kamarku. Aku terpaksa menghidupkan pendingin ruangan karena aku sudah mulai tak tahan dengan hawa panas Jakarta.

Aku berbaring di atas ranjang. Keheningan ini memberiku kesempatan untuk mengais kembali alasanku untuk selamanya menetap di sini, di Indonesia, di Jakarta. Betapa tempat ini pernah menjadi hanya sebagai alternatif terakhir untuk tempatku tinggal.

Jerman. Pilihanku semula hanyalah negara itu. Negara asal Otto. Ke mana pun dia akan bertugas sebagai seorang diplomat, pasti suatu saat akan kembali ke Jerman, tanah airnya. Bersamaku di sampingnya. Seperti Mama selalu mendampingi Papa.

Itu mimpiku. Mimpi yang ternyata tak pernah bisa sejalan dengan kenyataan. Dan nama itu kemudian memberikan rasa perih yang sangat dalam hatiku. Membuatku memejamkan mata untuk menahan airmata agar tak menerobos keluar dengan liarnya.

Dan entah beberapa saat kemudian, aku sudah ‘menghilang’ dari peredaran.

* * *

Senja sudah membayang ketika aku membuka mata. Rasanya puas sekali aku tidur. Langit sudah agak gelap di luar jendela. Aku seketika bangun karena melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 5.35. Buru-buru aku meloncat ke kamar mandi.

Hampir pukul enam ketika aku keluar dari kamar. Badanku terasa segar. Suasana sunyi langsung menyambutku. Di depan dapur aku berpapasan dengan Mbok Nem, ART paling senior di rumah ini.

Kakung sama Uti di mana, Mbok?”

“Ada di depan, Mbak,” jawab Mbok Nem. “Di teras. Mbak Riri mau minum apa?”

“Hm...,” aku berpikir sejenak. “Teh hangat saja boleh, deh. Terima kasih, Mbok.”

Dengan langkah cepat aku menuju ke teras depan. Pintu ruang tamu terbuka lebar. Dan aku melihat kedua eyangku tengah asyik berbincang sambil duduk di sofa teras, menghadap ke taman.

Uti... Kakung...,” sapaku halus.

Keduanya menoleh. Kakung langsung menggapaikan tangannya, dan aku pun segera menjatuhkan diri di antara Kakung dan Uti. Elusan lembut Uti segera menyapa kepalaku.

“Mau?” Kakung mengangkat mangkuk kecil di tangannya. “Kolak biji salak.”

Aku menggeleng. Kakung mengerutkan kening.

“Tumben...,” gumamnya.

“Mangkuknya mini begitu mana mantap, Kung?” cengirku.

Kakung dan Uti seketika tergelak mendengar celetukanku. Tak perlu menjambret semangkuk kecil kolak biji salak di tangan Kakung, karena Mbok Nem sudah datang membawa nampan berisi segelas besar teh hangat dan kolak biji salak dalam mangkuk ukuran cukup jumbo.

“Nah, Mbok Nem saja tahu aku butuh kolak seberapa banyak,” kekehku gembira.

Kakung dan Uti kembali tergelak. Segera saja aku menikmati kolak biji salak itu tanpa komentar apa-apa. Tapi melihat betapa lahapnya aku, Uti pasti tahu bahwa aku sangat menyukainya.

“Lama di luar negeri ternyata tak mengubah selera makanmu terhadap makanan sini, ya?” tangan Uti kembali mengelus kepalaku.

“Jangan salah, Ti,” jawabku sambil mengunyah bulatan-bulatan ubi. “Makanan Indonesia itu paling pas di lidahku. Nggak hambar macam kebanyakan makanan Eropa atau terlalu berbumbu macam makanan Asia Tengah. Nggak semua makanan luar nggak enak, sih. Tapi buatku nggak ada makanan Indonesia yang nggak enak.”

“Pulang ke Indonesia, pipimu bisa tambah nyempluk,” Kakung mencubit lembut pipiku dengan wajah gemas.

Aku terkekeh, bersamaan dengan menghilangnya seluruh isi mangkuk yang kupegang itu ke dalam perutku. Benar-benar enak! Memuaskan! Kuletakkan mangkuk di atas meja.

“Besok mau ke mana?” tanya Kakung. “Tinggal bilang saja sama Wahid, biar dia mengantarmu.”

Aku menggeleng. “Belum tahu, Kung.”

“Ikut Kakung sama Uti jalan pagi saja dulu,” ujar Uti. “Sekalian makan bubur ayam di taman. Kalau Minggu pagi, kan, ramai.”

“Hm...,” aku manggut-manggut. “Boleh juga.”

“Oh, iya, tadi Tante Ninin menitipkan ini,” Kakung merogoh bagian bawah meja pendek di depan kami, kemudian mengeluarkan sebuah kotak terbungkus kertas coklat, dan mengulurkannya padaku. “Beberapa hari lalu tantemu dapat hadiah lomba menulis. Sengaja disimpan untukmu.”

Aku segera membukanya. Wah, ponsel baru! Aku sampai kehilangan kata-kata. Bukan harga ponsel itu yang membuatku terharu, tapi perhatian Tante Ninin padaku. Kenyataannya, aku punya uang untuk membeli ponsel baru yang lebih bagus dan lebih mahal daripada yang sekarang ada di tanganku ini. Tapi sungguh, tidak semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan uang.

Ponsel itu bahkan sudah diisi SIM card dan pulsa yang lumayan besar. Segera kuminta nomor kontak Tante Ninin pada Kakung. Dan ketika kutelepon beliau untuk mengucapkan terima kasih, suara tawa renyah Tante Ninin segera memenuhi telingaku.

“Jangan dibuang, ya?” pesannya.

“Pasti enggaklah, Tan,” sahutku cepat.

Bagaimana bisa aku membuang benda yang sudah diberikan oleh tanteku dengan segenap hatinya? Apalagi benda itu sangat berguna untukku pada hari-hari pertamaku menetap di sini. Karena ponselku yang lama sudah tak bisa lagi dipakai.

Sejenak kemudian Uti sudah meninggalkan Kakung dan aku yang masih sibuk mendiktekan dan menyalin semua nomor kontak keluarga besarku. Senja sudah menggelap sempurna ketika Uti kembali lagi ke teras.

“Ayo, makan dulu,” ajak Uti kemudian.

“Masih ada nasi kuningnya, Ti?” tanyaku sambil berdiri.

“Masih.”

“Asyiiik!” seruku seketika. Membuat Kakung dan Uti tergelak.           

Aku memang selalu kalap soal makanan kalau ‘pulang kampung’ seperti ini. Siapa yang tidak, coba? Yang jawab ‘tidak’, kemungkinannya hanya ada dua. Kalau tidak ‘jaim’, ya ‘munafik’. Hehehe...

* * *



24 komentar:

  1. Sabda'ne mbak Lizz jeg pancen Oke buanget iki... Side story eternal forseti? Pas mbak, kangen ambek eternal. Biarpun ceritanya bertahun2 lampau sebelum EF. Hasil'e wis metu mbak??? Tanggal terbit'e ojok kali diworo2, mengko tak enteni ndik ngarepe lawange toko bukune. ¥&¥)( Eternal Forseti musti di enteni koyok ngono, lek ora, selak entek. Lha wong best seller&@?; saliiimmm......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum keluar hasilnya, wong deadline aja belum habis kok 😉
      Makasih mampirnya yaaa... 😘

      Hapus
  2. Goood...
    Salam buat miss cempluk :)

    BalasHapus
  3. Manis ceritanya. Muach muach... :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whoaaa... Lebih maniiisss yang komen di atas iniii 😍

      Hapus
  4. Wah.. senangnya jd Cempluk, disayangi semua anggota keluarga.
    Aku jg suka es cendol & kolak biji salak bu.. ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Indah kayaknya udah siap bikin fiksi kuliner nih? 😍😎

      Hapus
  5. Akhire apdet jugak ��
    Ketoke seru iki !
    Gas pol !!!!

    BalasHapus
  6. baru bagian pertama ja..udah kereen banget Mbak Lis..ditunggu kelanjutannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nggak mengecewakan ya, Mbak Bekti... 😘

      Hapus
  7. Neng awal bae wis greng! Jempol tenanan 👍

    BalasHapus
  8. mana kolaknya... mana kolaknyaaaaa...

    makan kolak sambil baca cerbung baru = kenikmatan surgawi.

    BalasHapus
  9. selalu dan selalu...
    kece!!!
    keren badai!
    hestek nggak sabar nunggu kelanjutan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Badai dari Hongkong??? 😂
      Makasih ya, Neng... 😘

      Hapus
  10. Selamat siang mbak Lis,

    Jika kami ingin menawarkan anda untuk menerbitkan naskah (gratis)di Guepedia, kami dapat menghubungi anda melalui apa ya mbak? Bisa kami minta contac person?

    Terima kasih sebelumnya :)
    Salam hangat,
    Guepedia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan tinggalkan alamat email di sini, nanti saya hubungi kembali 😊
      Terima kasih...

      Hapus
    2. Hiyaaa... Lupa bales salamnya! 😱
      Selamat siang juga... 😳

      Hapus
    3. oke baiklah, silahkan hubungi kami melalui email guepedia@gmail.com ya mbak.
      Terima kasih banyak sebelumnya :)

      Hapus