Senin, 06 Juni 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #5







* * *


Lima


Yang tak pernah kusangka, seluruh keluarga besarku – tanpa terkecuali – datang ke taman pada hari Minggu berikutnya untuk menonton penampilan perdanaku bersama Kopimusik, Komunitas Pecinta Musik Klasik. Sambil menunggu datangnya anggota Kopimusik yang lain, aku duduk di sebelah Mbak Fella yang tengah menyusui baby boy-nya.

Memiliki bayi yang baru berusia tujuh bulan tak menghalangi Mbak Fella untuk menyalurkan hobi bermusiknya. Suaminya dengan setia mengawal dan menemani. Ketika konser sudah dimulai, Bang Razak dengan sabar duduk memangku bayi montok mereka yang sudah kelihatan menikmati sekali setiap alunan nada yang dilantunkan Kopimusik. Menggemaskan!

Tanpa sadar mataku kemudian beralih pada gerombolan besar keluargaku yang mengobrol dengan suara rendah hingga hanya terdengar dengungan macam suara lebah. Uti melambaikan tangan padaku dengan wajah disetel genit. Aku tertawa geli.

“Keluargamu mengagumkan, Ri,” gumam Pak Satmoko. “Kompak sekali!”

Aku tertawa ringan menanggapinya.

Tapi hingga konser mini ini dimulai dan selesai, aku sama sekali tak menemukan sosok Alessandro di antara penonton. Pun ketika aku kembali tinggal sejenak dan pulang belakangan. Aku masih berharap dia duduk menungguku di bawah pohon kenari seperti hari Minggu lalu.

Ketika aku memasuki jalan setapak, justru Mas Hasto yang kutemui duduk di bawah pohon kenari bersama Mbak Menik. Senyum keduanya menyambutku.

“Belum pulang?” tanyaku sambil menghampiri mereka.

“Tunggu kamu,” jawab Mas Hasto.

“Aku nggak bakalan hilang,” tawaku.

“Iya, aku percaya,” Mas Hasto tertawa juga. “Tapi Kanjeng Eyang Kakung memberi titah seperti itu.”

“Halah...,” cibirku. “Kakung yang kasih komando, atau Mas Hasto yang menawarkan diri? Hitung-hitung menambah jam terbang kencan di bawah pohon...”

“Hahaha...,” Mas Hasto terbahak hebat. Sedangkan Mbak Menik hanya bisa senyum-senyum dengan wajah nyaris sewarna dengan kepiting rebus.

Agar tidak menambah dosa lagi, akhirnya kusuruh saja Mas Hasto mengantar Mbak Menik pulang. Aku bisa pulang sendiri. Tapi Mas Hasto menggeleng.

Uti memintaku membawa Menik ke rumah dulu. Nanti baru aku antar pulang.”

“Oh...”

Kami berjalan bertiga. Mas Hasto mengambil alih kotak violin dari tanganku. Membawakannya tanpa kuminta. Kami melangkah sambil bercakap-cakap. Dari situ aku tahu bahwa Mbak Menik adalah salah satu guru TK di sebuah sekolah internasional. Pantas saja Dinda, balita Mbak Jani dan Mas Gatot, lengket sekali pada Mbak Menik.

Aku menoleh sekilas ketika melewati rumah yang ditempati Alessandro. Terlihat tertutup dan sepi. Pantas saja dia tak muncul. Mungkin dia memang sedang pergi untuk beberapa hari, hiburku pada diri sendiri.

* * *

Keesokan paginya, penampilan Kakung tampak lebih rapi dari biasanya begitu aku muncul di ruang makan. Beliau memberiku kecupan ringan di kening ketika aku memberi salam. Tak lama setelah aku duduk, Uti muncul dari arah dapur diikuti Mbok Nem yang membawa sebuah mangkuk besar dengan isi yang terlihat panas mengepul. Dari baunya, jelas bahwa isi mangkuk itu adalah kuah rawon.

“Whoaaa...,” aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku.

Masakan berkuah kaldu daging berwarna hitam itu adalah salah satu favoritku. Aroma rempah-rempahnya saja sudah membuatku hampir meneteskan air liur saking menggodanya.

“Rencana semula jadi?” tanya Kakung sambil makan.

“Rencana yang mana, ya, Kung?” aku malah balik bertanya.

“Yang mau memantapkan menyetir,” jawab Kakung.

“Oh... Jadi,” aku mengangguk. “Tapi itu juga kalau Pak Wahid nggak dipakai sama Kakung atau Uti. Aku masih butuh pendamping.”

“Ya, sudah, sama Kakung saja hari ini. Uti mau menengok klinik, butuh Pak Wahid.”

“Oh... Baiklah,” aku mengacungkan jempol.

Selama seminggu kemarin, aku memang sudah sah menghafalkan jalur antara rumah ini dengan kantor Eternal Corp. Juga jalur-jalur penting lainnya seperti ke rumah Budhe, Pakdhe, Om, dan Tante. Pada awalnya, Pak Wahid yang menyetir dan aku mencatat penanda jalur-jalur itu. Berikutnya, aku yang mencoba menyetir, tetap didampingi Pak Wahid, berkeliling sekitar lingkungan rumah. Berikutnya lagi, mulai keluar ke jalanan. Pada hari Jumat dan Sabtu kemarin, mulai bolak-balik beberapa kali mencoba jalur antara rumah dan kantor, pulang-pergi. Karena untuk sementara ini, jalur itulah yang terpenting bagiku.

“Pakai baju sedikit lebih rapi, ya, Pluk,” pesan Kakung setelah aku menyelesaikan sarapan. “Kakung akan ajak kamu ke kantor. Sekadar lihat-lihat dulu.”

Aku mengangguk sebelum beranjak untuk berganti baju.

* * *

Sejujurnya, aku baru sekali ini masuk ke kantor pusat Eternal Corp. secara serius. Dulu, kalau aku sedang berada di sini, pernah juga. Tapi hanya sekadar ‘main’. Memang sering terbayang bahwa aku suatu saat nanti akan menginjakkan kaki secara rutin di sini. Karena itulah aku mengambil kuliah jurusan bisnis. Agar aku punya bekal cukup mumpuni untuk bekerja di sini.

Tak pernah ada yang memaksaku. Tapi minatku justru timbul saat Kakung bercerita sambil lalu tentang Eternal Corp. Bukan cerita yang serius dan tendensius. Hanya suatu obrolan ringan. Tapi justru di situlah minat kami, cucu-cucu beliau, timbul. Bahwa ada begitu banyak cinta, usaha, keringat, dan airmata saat menghidupkan Eternal Corp. Begitu pula saat mengembangkan dan mempertahankan keseluruhan Eternal Corp. agar bisa tetap kukuh berdiri.

Om Nor yang memimpin Eternal Corp., setelah Kakung mengundurkan diri karena faktor usia, pun membuka pintu seluas-luasnya bagi kami, para keponakannya, untuk turut serta memajukan Eternal Corp.

“Dulu Kakung berjuang sendirian saat Eternal masih berupa perusahaan kecil,” begitu Om Nor pernah mengungkapkan. “Lalu aku membantu ketika Eternal makin berkembang. Dan kini Eternal makin besar, sementara Kakung sudah harus pensiun. Kalian sangat dibutuhkan untuk mempertahankan Eternal. Karena kalau hanya aku sendiri, aku tak akan mampu.”

Sedikit pun tak ada tekanan untuk ‘harus masuk ke Eternal’. Dari pikiran ‘daripada repot-repot cari kerja di tempat lain’, aku kemudian menemukan bahwa sepupu-sepupuku yang sudah berada lebih dulu di Eternal justru menemukan ‘cinta’ di sana. Tak lagi hanya sekadar bekerja.

Semoga aku pun nantinya akan menemukan hal yang sama. Karena bagaimanapun juga, karena perjuangan Kakung di dalam Eternal-lah yang membuat seluruh keluarga besar ini memperoleh segalanya yang terbaik. Karena Kakung dan Eternal-lah putra-putrinya mendapat bekal pendidikan yang sangat layak untuk menjemput kehidupan masing-masing.

Walau demikian, niatku untuk masuk ke Eternal setelah lulus kuliah sempat goyah saat aku mengenal Otto. Tapi setelah Otto tak ada lagi, seolah aku tak punya pilihan lain. Mungkin memang sudah jalanku untuk tetap terikat keluarga besar di sini dan turut mempertahankan kelangsungan hidup Eternal Corp.

Om Nor menyambut kami dengan wajah cerah di lobi. Hanya saja beliau tidak bisa menemani kami berkeliling karena harus menghadiri pertemuan dengan manager dan para staf di salah satu anak perusahaan Eternal di tempat lain.

“Tapi aku sudah menyiapkan semuanya, Pak,” Om Nor menatap Kakung. “Seperti permintaan Bapak. Dan seharian ini, kantorku adalah milik Bapak dan Cempluk.”

Senyum Kakung melebar mendengar ucapan Om Nor. Setelah Om Nor berpamitan, aku pun digiring Kakung masuk ke lift untuk menuju ke kantor Om Nor di lantai enam.

Di sanalah Kakung kemudian dengan sabar menunjukkan dan menjelaskan satu demi satu dari seluruh slide yang berkaitan dengan Eternal Corp. Mulai dari sejarah, perkembangan, seluruh anak perusahaan beserta cabang-cabangnya, hingga orang-orang penting yang selama ini menjadi kepercayaan Kakung dan Om Nor.

“Umurmu masih sangat muda, Pluk,” ujar Kakung dengan lembut. “Masih banyak waktu dan kesempatan untuk belajar di sini. Karena itu, Kakung berharap kamu tak keberatan bila harus memulai karirmu dari bawah. Seperti dulu Kakung juga seperti itu melatih Om Nor. Dengan demikian kamu memahami kesulitan orang-orang di bawah. Orang-orang yang sebenarnya justru jadi ujung tombak kita dalam mempertahankan Eternal. Mereka semua bukanlah aset, melainkan keluarga. Kita semua di Eternal adalah keluarga. Keluarga besar yang saling membutuhkan, saling membantu, saling mengulurkan tangan, dan bergandengan erat. Mengerti?”

“Mengerti, Kung,” anggukku mantap.

* * *

Kejutan besar sudah menungguku di rumah. Sebuah city car berwarna silver mulus buatan Jepang yang masih berplat sementara sudah terparkir dengan manis di garasi saat Kakung dan aku pulang. Ternyata acara Uti harus ke klinik diantar Pak Wahid itu hanyalah akal-akalan belaka agar Kakung masih tetap bisa menatarku di kantor Eternal, dan mobil yang sudah dipesan beberapa minggu lalu itu siap untuk kupakai setelah dikirim oleh dealer dan di-check kelengkapannya oleh Uti dan Pak Wahid.

“Ini bukan Uti dan Kakung yang membelikan, Pluk,” ungkap Kakung. “Kakung membeli ini dengan uang sewa rumah kalian yang selama ini dipegang Uti. Tentu saja sudah atas persetujuan orang tuamu.”

Whatever...

Aku pun memeluk Kakung dan Uti dengan mata mengaca. Terharuuu... Tapi acara peluk-memeluk itu harus berakhir ketika sebuah salam menggema di dalam garasi itu.

“Selamat siang...”

Kami bertiga menoleh dan mendapati Alessandro berdiri tegak di depan pintu garasi yang terbuka lebar.

“Ale!” seru Kakung. “Kamu dari mana saja? Beberapa hari tidak kelihatan.”

“Saya ikut kunjungan kedutaan kami ke Sulawesi, Bapak,” senyumnya. “Ini ada sedikit oleh-oleh untuk Bapak, Ibu, dan Arinda.”

“Wah...,” mata Uti berbinar ketika menerima tas kertas besar itu dari Alessandro. “Repot-repot saja.”

“Tidak repot, Ibu,” Alessandro melebarkan senyumnya.

“Kamu melewatkan penampilan Arinda kemarin di taman, Ale,” celetuk Kakung.

“Iyakah?” mata Alessandro melebar. “Ah, sayang sekali!” desahnya kemudian.

“Minggu depan masih tampil lagi,” timpal Uti. “Arinda sudah resmi bergabung dengan Kopimusik.”

“Benarkah?” Alessandro kembali melebarkan matanya. “Kalau begitu saya tak akan melewatkan hari Minggu pagi di taman,” ucapnya antusias. “Dengan catatan tidak sedang berada di luar Jakarta.”

Ketika Uti menawarinya makan, Alessandro menggeleng.

“Saya sudah makan, Ibu,” tolaknya halus. “Saat ini saya hanya butuh tidur. Karena besok saya sudah harus kembali bekerja.”

“Jangan repot-repot menyiapkan makan malam, Ale,” kata Uti. “Nanti aku kirim, ya?”

“Merepotkan, Ibu,” jawabnya dengan wajah terlihat segan.

“Sama sekali tidak!” pungkas Uti. Tegas.

“Ah, terima kasih banyak. Saya permisi dulu.”

Kami bertiga mengangguk. Kakung bahkan mengantarnya hingga ke pintu pagar.

* * *

Dear Arinda,

Apa kabar?

Aku mendapat kabar dari James bahwa kamu sudah pulang ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Aku dan beberapa teman akan mendarat di Jakarta hari Jumat besok. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan mulai hari Senin depan. Bisakah kita bertemu? Aku rindu padamu. Sayangnya aku tidak bisa membawa Ai. Padahal dia juga rindu padamu.

Aku tunggu kabar secepatnya darimu.

Salam,
Hideki Maeda

Kubaca email dari Hide baik-baik.

Ah, anak itu! Sudah hampir tiga tahun kami berpisah. Dia langsung pulang ke Jepang begitu berhasil menamatkan jenjang magisternya. Hampir bersamaan dengan Ai Kaneko, kekasihnya, yang tamat jenjang sarjana. Aku dan Ai berteman cukup baik karena apartemen kami bersebelahan pintu. Tak lama setelah mereka kembali ke Jepang, Ai mengirimiku kabar bahwa dia akan segera menikah dengan Hide.

Tentu saja aku akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Hide. Tanpa menunggu lama, aku pun segera membalas email Hide. Menanyakan segala rincian kunjungannya ke sini. Balasan dari Hide pun kembali kuterima. Dia tak ada kegiatan pada hari Sabtu dan Minggu. Disertakannya pula nama dan alamat hotel tempatnya menginap.

Aku belum seutuhnya mengenal pelosok Jakarta. Jadi mau tak mau harus mengandalkan Pak Wahid. Aku yakin Kakung dan Uti akan mengijinkanku memakai jasa Pak Wahid selama ‘kencan’-ku dengan Hide.

* * *

Hide memelukku erat begitu kami bertemu di lobi sebuah hotel bertaraf internasional tempatnya menginap. Sejenak kemudian kami sudah asyik berbincang. Bertukar kabar dan cerita.

“Kenapa tidak membawa Ai, Hide?”

“Ah, Arinda,” desahnya. “Kandungan Ai sudah besar. Aku khawatir dia melahirkan di pesawat. Kamu sendiri? Bagaimana kabarmu?”

“Baik,” anggukku. “Sedang membiasakan diri dengan situasi dan kondisi Jakarta.”

“Sedang merancang karir?”

Aku kembali mengangguk. “Perusahaan keluarga kami sudah menunggu.”

“Sudah mulai bekerja?”

“Belum. Baru akan mulai hari Senin besok.”

Oh, my...,” Hide menatapku dengan rupa seolah tak percaya. “Aku benar-benar tak menyangka kita bisa bertemu lagi.”

Aku tertawa mendengarnya.

“Dunia ini sempit, Hide,” ujarku. “Pasti kita masih bisa bertemu dan bertemu lagi.”

“Sudah berhenti bermain violin?” Hide menatapku lekat. “Sama sekali?”

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa. Pada akhirnya. Aku rindu untuk menggesek violinku lagi. Walaupun sakit sekali rasanya ketika harus memulai.”

Hide menepuk-nepuk lembut punggung tanganku. Wajahnya terlihat penuh simpati.

“Aku percaya kamu akan mendapat gantinya, Arinda,” dia berusaha meyakinkanku. “Aku percaya.”

Aku mengangkat bahu.

Sejenak kemudian aku ingat bahwa aku sudah berjanji untuk membawa Hide berkeliling Jakarta. Apalagi hari masih terang begini. Bahkan aku sudah memesan tempat di sebuah kafe di dekat rumah Eyang. Beberapa hari lalu Mas Hasto pernah mengajakku makan di sana. Makanannya sangat enak dan suasananya menyenangkan.

Aku pun sudah berencana untuk membawa Hide sejenak ke rumah untuk bertemu dengan Kakung dan Uti setelah makan malam. Kakung dan Uti pernah menjengukku saat aku masih di Brisbane, bahkan menonton OPQ manggung di taman kampus. Tentu saja keduanya juga mengenal Hide.

“Kamu sudah mantap untuk tinggal di sini, Arinda?”

Tiba-tiba saja pertanyaan Hide itu mengusikku. Aku tercenung sejenak sebelum mencoba untuk menjawabnya.

“Kurasa tempatku memang di sini, Hide,” sekilas aku menatapnya yang duduk di sebelahku di jok belakang mobil. “Kamu tentu mengerti rasanya. Pulang. Setelah mendapatkan ilmu yang kamu rasa cukup untuk bekal hidupmu.”

“Hm... Ya...”

Hide tersenyum lebar melihat suasana kafe tempatku akan menjamu dia. Rupanya dia mendapati atmosfer yang sama dengan yang kurasakan ketika memasuki tempat ini beberapa hari yang lalu.

“Seperti kembali ke Fortitude Valley!” celetuknya.

Aku tertawa.

Dulu kami memang sering sekali keluar ramai-ramai ke Fortitude Valley setelah manggung. Sekadar melepaskan kejenuhan di akhir pekan. Terkadang Ai kami ajak. Terkadang Cetta dan Lakshan beserta bayi mereka pun ikut serta. Benar-benar persahabatan yang indah!

Sambil makan, aku bercerita tentang aktivitas baruku di Kopimusik. Hide tampak begitu antusias mendengarnya. Bahkan dia setengah memaksaku untuk dibolehkan melihat penampilanku esok pagi di taman.

“Harus pagi-pagi sekali, Hide!” elakku, tertawa ringan.

Come on, Arinda...,” wajahnya tampak memelas. “Aku harus memberi bukti pada Ai bahwa perempuan yang mengajakku kencan selama di sini adalah betul-betul kamu.”

Really?

Hide mengangguk dengan wajah disetel sepolos mungkin. Membuatku tergelak.

“Lagipula jauh-jauh aku datang ke sini, tentunya harus memperoleh sesuatu yang istimewa yang bisa kubagi dengan Ai.”

Ah! Cintanya pada Ai sungguh begitu besar. Diam-diam memberi rasa cubitan kecil di sudut hatiku.

Akhirnya aku setuju. Akan mengirim Pak Wahid besok pagi-pagi sekali untuk menjemputnya. Dan ketika sudah kubawa Hide ke rumah, lalu kukatakan pada Kakung dan Uti tentang keinginan Hide itu, tentu saja dukunganlah yang Hide dapatkan.

Menjelang pukul sepuluh malam, aku mengantarkan Hide kembali ke hotelnya. Kali ini tidak bersama Pak Wahid. Aku yang harus menyetir sendiri mobilku. Dengan pendampingan dari Kakung, tentu saja. Uti pun tak ketinggalan ikut serta. Hide kelihatan senang dengan sambutan dari Kakung dan Uti.

“Suatu saat kami sekeluarga akan kembali lagi ke sini,” ucap Hide, yang segera kami amini.

Berkali-kali Hide membungkukkan badannya dalam-dalam setelah kami mengantarnya dengan selamat sampai di hotel. Ketika Kakung, Uti, dan aku berbalik untuk keluar, kami berpapasan dengan orang yang sudah tak asing lagi.

Alessandro Tardini.

Wajahnya terlihat kikuk ketika kami menyapanya. Padahal kami biasa-biasa saja. Mungkin karena seseorang yang sedang memegang lengannya dengan begitu erat.

Seorang perempuan muda berambut kemerahan yang menatapku dengan cukup tajam.

* * *

Selanjutnya

12 komentar:

  1. Akhirnya yg dtunggu-tunggu tayang jg...drtd bolak-balik tak intip tp koq gk muncul2...Top Mba Lizz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih singgahnya, Mbak Tri... Mulai Senin depan semoga jam tayangnya nggak ngaco lagi 😳

      Hapus
  2. hiss... kok ono wanita lain hihi

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Makasih atas kesetiaannya mampir di sini, Pak Subur... 😊

      Hapus
  4. makin kesini makin penasaran....

    BalasHapus
  5. wooooo... kurang ajar pegang-pegang cowok orang !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh... Nek esmosi ngene mlipir ae akuuu... 😱

      Hapus