Selasa, 19 Juli 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #15-2





Sebelumnya



* * *


“Semua salah Bapak, Ri,” desah Pak Banyu dengan wajah keruh.

Kuhela napas panjang. Jujur, aku tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Pak Banyu tertunduk menekuri secangkir kopi yang terhidang tepat di depannya, di sebuah meja kafe kecil di salah satu sudut lobi rumah sakit. Sedetik kemudian Pak Banyu mengangkat wajahnya, dan menatapku dengan manik mata berlumur penyesalan.

“Waktu kami bawa ke sini, dalam kondisi setengah sadar, berkali-kali Irvan mengigaukan nama Riri,” Pak Banyu menghela napas panjang. “Mamanya sudah panik total. Sebetulnya Bapak juga. Bagaimanapun Irvan anak Bapak. Bapak sayang padanya. Bapak takut kehilangan Irvan.”

Mata Pak Banyu mengerjap. Mengaca. Membuat tenggorokanku serasa tercekat hebat.

“Lalu keesokan paginya mama Irvan menyuruh Bapak untuk mencari Riri. Pada awalnya Bapak hanya tahu Riri cucu investor yang memberi piutang pada Irvan. Tanpa Bapak tahu siapa dan seperti apa orangnya. Ternyata Riri cucu Pak Haryanto,” Pak Banyu menggelengkan kepalanya. “Bapak sungguh-sungguh tak menyangka. Dan Bapak mencoba untuk menjemput Riri, di rumah Pak Har. Ketika tahu apa yang terjadi, Pak Har mendamprat Bapak habis-habisan.”

Aku ternganga. Kakung? Mendamprat Pak Banyu? Oh, my...

“Beliau secara paksa membuka mata Bapak,” Pak Banyu tersenyum tipis dengan mata masih berkabut. “Bahwa benar Irvan adalah anak Bapak, darah daging Bapak, tapi bukan berarti Bapak berhak memaksanya untuk mengikuti cara Bapak.”

Aku masih terdiam. Mungkin Pak Banyu menangkap ekspresi tolol pada wajahku. Ia tersenyum.

“Dan seutuhnya semua ucapan Pak Har adalah benar,” Pak Banyu mengangguk. “Karena sudah terbukti. Semua putra-putri Pak Har adalah orang-orang hebat. Karena semuanya didukung untuk menemukan jalannya sendiri. Ketika ada putranya yang bersedia meneruskan usaha yang dibangun Pak Har, itu karena kemauannya sendiri, sama sekali bukan paksaan. Ah... Pantas kalau Irvan membenciku...,” Pak Banyu pelan-pelan menyandarkan punggungnya dengan wajah pasrah.

“Aku nggak pernah menganggap Papa salah. Aku tahu tiap orang tua ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Kebetulan saja yang dirasa Papa terbaik untukku itu bukanlah sesuatu yang kuyakini.”

Tiba-tiba saja apa yang pernah diucapkan Irvan kembali terngiang di telingaku. Kutatap Pak Banyu.

“Pak...,” aku menemukan keberanian untuk bicara. “Mas Irvan tidak pernah membenci Bapak.”

“Benarkah?” Pak Banyu menegakkan punggungnya. Menatapku tak percaya.

“Benar, Pak,” anggukku tanpa ragu. “Mas Irvan sepenuhnya memahami bahwa Bapak tentunya menginginkan hal yang terbaik untuk putra-putri Bapak. Mas Irvan tidak pernah menganggap Bapak salah. Yang terjadi hanyalah Bapak dan Mas Irvan berada pada kutub yang berlawanan. Kutub yang memiliki keinginan masing-masing.”

“Irvan mengatakan begitu?” Pak Banyu menatapku dengan sorot penuh harap.

“Iya, Pak,” aku kembali mengangguk. “Ibu juga tahu. Ada Ibu sewaktu Mas Irvan mengungkapkan hal itu.”

“Kapan?” Pak Banyu mengerutkan keningnya.

“Setelah Bapak keluar saat mengunjungi Godhong Gedhang tempo hari.”

“Oh...”

Pak Banyu kemudian menyesap kopinya. Demikian pula aku, menyedot pelan-pelan ice lemon tea di depanku.

“Jadi...,” Pak Banyu menatapku lagi. “Kalian sudah saling kenal saat masih sama-sama di Aussie?”

Aku sempat tertegun sejenak sebelum menggeleng.

“Kok?”

Aku mencoba untuk tersenyum. “Ya... Mungkin Mas Irvan sudah tahu saya sejak lama, Pak. Tapi saya baru mengenal Mas Irvan di sini. Beberapa bulan lalu. Di komunitas pemusik tempat kami sama-sama bergabung. Belakangan saya tahu Mas Irvan sahabat sepupu saya, Mas Hasto.”

“Ah, ya, Hasto,” gumam Pak Banyu dengan sedikit binar di matanya. “Awalnya aku ingin Irvan seperti Hasto. Masuk ke perusahaan keluarga, dan...,” Pak Banyu mengedikkan bahu. “Tapi Bapak sungguh-sungguh kagum pada Pak Har. Benar-benar membiarkan putra-putri beliau menemukan dunia mereka sendiri-sendiri. Dan pada akhirnya ada juga cucu-cucu yang kembali pada jalur yang sudah dirintis Pak Har. Salut!”

“Bapak juga bisa begitu,” senyumku, agak jahil. “Kalau mau.”

Pak Banyu menyunggingkan senyum paling lebar yang pernah kulihat. Diam-diam aku menyetujui pendapat Om Nor, bahwa Pak Banyu ini sebenarnya orang yang baik.

“Bapak akan berusaha, Ri,” angguk Pak Banyu. Terlihat tegas dan mantap. “Terima kasih karena Riri sudah membuka mata hati Bapak makin lebar lagi. Bapak titip Irvan, ya, Ri?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kemudian kusedot sampai habis ice lemon tea-ku.

“Pak, boleh saya kembali menemani Mas Irvan di kamar?” tanyaku, ragu-ragu. “Tadi saya sudah janji padanya untuk menemaninya, nggak akan ke mana-mana.”

Pak Banyu mengangguk. “Silakan, Ri. Terima kasih, ya?”

Aku kembali mengangguk dan melebarkan senyumku.

* * *

Pada saat seperti ini, aku benar-benar ingin membagi tubuh dan jiwaku menjadi dua bagian yang sama besar. Yang setengah kuinginkan berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Setengahnya lagi berada di Eternal Husada untuk menjaga Irvan. Sebetulnya ia tak perlu dijaga juga, sih... Tapi rasanya aku ingin menebus hari-hari kemarin, saat ia mungkin membutuhkan aku, tapi aku tak ada di sisinya.

Saat ini aku ingin menemaninya. Mungkin Mbak Jani akan mengijinkan aku. Tapi mungkin juga tidak. Bahkan ia mungkin akan menegurku. Mbak Jani adalah orang paling profesional yang pernah kukenal. Lagipula seutuhnya aku menyadari status Irvan bagiku. Baru sekadar kekasih yang masih memiliki keluarga untuk menemani dan menjaganya di rumah sakit. Belum menjadi keluarga intiku.

“Ri...”

Aku mendongak. Mengalihkan tatapan dari layar monitor. Sekelilingku sudah sepi. Sekarang sudah jam makan siang. Tapi entah kenapa aku malas sekali rasanya untuk beranjak. Kutemukan Mbak Jani tengah menatapku serius.

“Pekerjaanmu lanjutkan besok saja,” Mbak Jani meneruskan ucapannya. “Kamu nggak perlu lembur hari ini.”

“Oh...,” aku sedikit termangu.

“Irvan juga penting,” Mbak Jani mengulum senyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Tapi, Mbak...”

“Ssst...,” Mbak Jani mengibaskan tangan kanannya di depan wajah. “Aku masih boss-mu. Sampai detik ini, anak buah masih digariskan untuk patuh pada boss-nya.”

Aku tersenyum lebar mendengar ucapan Mbak Jani. “Terima kasih banyak, Mbak.”

“Dan boss-mu yang satu ini sekarang memerintahkanmu untuk menemaninya makan siang. Bagaimana?”

Seketika aku tertawa geli sambil mengangguk.

* * *

Sorenya aku segera meluncur ke Eternal Husada begitu jam kantor usai. Sebelum pukul lima sore aku sudah memasuki lobi Eternal Husada. Beberapa menit kemudian, pelan-pelan kubuka pintu kamar rawat Irvan. Aku mendengar ada suara-suara rendah yang sepertinya sedang saling menyahut. Tanpa suara, aku melangkah mendekati ranjang Irvan yang tersembunyi di balik tirai. Ketika hendak menyibak tirai itu, gerakan tanganku terhenti seketika.

“Ayo, Van, pisangnya habiskan dulu...” Suara Pak Banyu. Berat, rendah, dan begitu lembut.

“Nanti, Pa. Aku masih mual.”

“Sedikit-sedikit, Van. Ayo, Papa suapi.”

Seperti ada bola besar yang mengganjal tenggorokanku. Seketika mataku dipenuhi airmata yang merebak begitu saja. Tanpa bisa kutahan. Pelan, tanpa suara, aku memutuskan untuk keluar dari kamar itu.

Ada dua buah kursi yang mengapit sebuah meja kecil di depan setiap kamar dalam Pavilyun Kencana. Aku duduk di salah satu kursi, tepat di depan kamar rawat Irvan.

Tiba-tiba saja aku teringat pada Papa. Setiap aku, atau Dipa, atau Rinnel sakit, Papa selalu jadi orang yang paling sibuk dan panik. Padahal Mama biasa-biasa saja. Karena Mama selalu meyakini bahwa anak-anaknya sudah diberi gizi cukup sehingga kuat melawan penyakit.

Papa tidak pernah absen menunggui anak-anaknya yang harus meringkuk di kamar, sebelum dan sepulang kerja, sementara Mama menyelesaikan pekerjaan lain. Baik saat di luar maupun di dalam negeri, sikap Papa selalu sama. Berusaha menghibur, melayani, dan membuat kami jadi lebih nyaman.

Setetes airmata meluncur di pipiku. Kucari ponsel di dalam tas. Ketika kutemukan benda itu, segera saja kukirim SMS yang benar-benar sangat singkat.

Pa, Cempluk kangen.

Tak dinyana, ponselku berbunyi beberapa saat kemudian.

“Pluk, kenapa?”

Kudengar suara sabar Papa dari seberang sana begitu kuucapkan salam.

“Kangen,” jawabku, nyaris hanya berupa bisikan.

“Kamu sehat? Kok, jadi melankolis begini?”

Aku justru terisak karenanya.

“Hei! Ada apa, Pluk? Kok, malah mewek?”

“Cempluk kangen, Pa.”

“Papa juga, Pluk... Nanti kita chatting, ya? Sekarang Papa mau makan siang dulu. Sudah ditunggu teman-teman. Kamu baik-baik di sana, ya?”

Aku mengangguk sambil membisikkan, “Iya, Pa...,” dengan agak tersendat.

Pelan, kumasukkan ponsel ke dalam tasku lagi. Tepat pada saat itu aku menyadari, ada seseorang yang berdiri tak jauh dariku. Ia tersenyum ketika aku menoleh.

“Riri, ya?” tanyanya ramah. “Kenapa tidak masuk?”

Buru-buru kususut airmataku, dan menyambut uluran tangannya.

“Arsita,” ucapnya manis. Kemudian ulangnya, “Riri kenapa tidak masuk?"

Aku menggeleng. “Ada Bapak di dalam. Sedang menyuapi Mas Irvan. Aku tak mau mengganggu, Mbak.”

“Oh...,” senyumnya melebar.

Ia kemudian duduk di kursi sebelah, di seberang meja. Dengan ramah ia mengajakku mengobrol. Cukup banyak yang ia ceritakan soal Irvan. Kebanyakan hal yang pasti memalukan buat Irvan kalau diketahui orang lain. Beberapa kali aku tergelak ringan karenanya.

Kami cukup asyik mengobrol hingga Bu Mawarni muncul. Tanpa banyak kata, digiringnya kami masuk ke dalam kamar.

* * *


10 komentar: