Selasa, 26 Juli 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #17-2







* * *


Aku hanya mampu berdiri diam di depan pintu. Tak tahu harus mengatakan apa. Karena aku sudah paham sepenuhnya hal apa yang tengah dibicarakan Irvan dengan pertanyaan pendeknya. Ini pasti tentang pengambilalihan uang pinjaman itu. Tapi dari mana ia tahu?

Mataku mengerjap. Lalu tatapan Irvan kembali ke layar laptopnya. Seolah aku tak ada di situ. Beberapa kali aku terpaksa mendegut ludah. Tenggorokanku terasa kering tiba-tiba. Apalagi kemudian aku menyadari. Ada bara yang menyala dalam matanya.

Kalau aku membela diri, itu artinya aku seperti mendorong Bu Mawarni ke jurang demi menyelamatkan diriku sendiri. Padahal apa, coba, yang sudah dilakukan Bu Mawarni? Mencoba menyelamatkan Irvan, putra bungsunya sendiri. Demikian juga Kakung dan aku yang ikut terlibat.

Tapi harus dari mana aku menjelaskannya? Sementara Irvan kelihatannya sudah terlalu malas untuk mendengar.

“Itu...,” susah payah aku mengeluarkan suara, “... salahku.”

Irvan tetap diam.

“Awalnya aku berusaha untuk meminjam uang pada Mama,” lanjutku, nyaris tak terdengar. “Tapi Mama tak punya uang sebanyak itu. Mama memang bilang akan menceritakan pada Papa permasalahan ini. Siapa tahu Papa punya jalan. Tak tahunya, Papa malah menceritakan itu pada Bu Mawarni, karena ternyata Bu Mawarni adalah sahabat Papa di SMA dulu. Lalu Bu Mawarni mendatangiku. Meminta kami untuk bekerja sama. Kakung dan aku. Kami melihat itu satu-satunya cara untuk menolong Mas Irvan. Jadi...”

Irvan masih tetap tak bereaksi. Diam-diam aku mulai merasa putus asa. Tampaknya ia lebih keras daripada yang selama ini kuduga. Tapi di sisi lain, aku pun memahami kemarahannya. Mungkin aku akan merasakan hal yang sama kalau berada di posisinya.

“Ya, aku tahu aku salah,” gumamku. “Sudah sepantasnya Mas Irvan marah padaku. Tapi tolong, jangan marah pada Bu Mawarni. Atau Kakung. Karena semuanya diawali dari keinginanku itu. Maafkan aku, Mas...”

Aku tak punya pilihan lain ketika melihat Irvan masih membeku di tempat duduknya. Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku hanyalah meninggalkan tempat itu secepatnya. Karena aku mulai merasa sesak. Apalagi satu pertanyaan itu mulai bergerak menghantuiku.

Dari mana ia tahu?

* * *

Sisa hari Sabtu begitu kelabu menggayuti hariku. Aku melaluinya dengan lebih banyak berdiam diri. Untungnya, kalau masih boleh dikatakan untung, seisi rumah mengira aku hanya terlalu lelah seusai kerja rodi selama tiga hari berturut-turut. Sengaja aku tak menceritakan apa pun pada Kakung. Seusia Kakung sekarang, sudah seharusnya tak lagi memikirkan hal yang berat. Apalagi bila masalah itu berkaitan dengan Irvan dan aku.

Kuhembuskan napas panjang kuat-kuat sambil tetap berbaring di ranjang. Semalam aku memang sudah berpesan pada Mbok Nem agar Minggu pagi ini aku tidak dibangunkan karena ingin tidur sepuasnya. Tapi ‘tidur sepuasnya’-ku kali ini adalah tidur yang sama sekali tidak nyenyak dan membuatku beberapa kali terjaga tanpa tahu apa sebabnya.

Jarum pendek jam dinding hampir sampai di angka delapan, sedangkan jarum panjangnya tepat menunjuk angka sebelas. Aku menguap. Rasanya badanku tak bertenaga. Malas sekali untuk bangun. Tapi kusingkapkan juga tirai kamarku. Dan menyempatkan diri untuk mengintip suasana sepi dari balik jendela sebelum membukanya. Aku menguap sekali lagi.

Hm... Sepertinya enak sekali membaringkan diri dalam bathup. Berendam dalam genangan air hangat ditemani aromaterapi yang menenangkan. Lalu ke sanalah aku menuju. Kamar mandi di dalam kamarku. Tapi belum sempat aku melangkah ke dalamnya, sudah ada yang mengetuk pintu kamar. Uti berdiri di depan pintu kamarku ketika aku membukanya.

“Sudah bangun kamu,” senyum Uti. “Uti lihat jendela kamarmu sudah terbuka. Kamu capek banget, ya?”

“Hm... Iya, sih,” aku mengangguk.

“Cempluk sudah bangun, Bu?” begitu saja sosok Tante Laras sudah menyembul dari balik punggung Uti.

“Sudah,” jawab Uti. “Tuh!”

“Pluk, buruan mandi, terus makan,” Tante Laras mengedipkan sebelah matanya. “Tante sudah pesan tempat buat kita bertiga spa. Ayo!”

Aku bengong sejenak.

One day spa!” tegas Tante Laras.

Iming-iming Tante Laras begitu menggiurkan. Aku segera pamit sebentar untuk mandi. Sistem kilat saja. Asal bersih. Ketika masuk ke ruang makan, kulihat Kakung, Uti, dan Om Nor sekeluarga tengah duduk mengelilingi meja makan sambil asyik mengobrol dan mengunyah sesuatu.

Uti segera menyodorkan piring kosong dan mulai menyendokkan nasi. Tapi aku buru-buru mencegahnya. Di tengah meja ada semangkuk besar bubur jagung manis. Kulihat semua di sekeliling meja tengah menikmati bubur itu.

“Aku mau buburnya saja, Ti,” celetukku.

“Nggak makan nasi dulu?” Uti mengerutkan kening.

Aku menggeleng. Dalam kondisi kurang nafsu makan seperti ini, rasanya semangkuk kecil bubur jagung manis sudah cukup untukku. Bubur jagung manis itu khas Tante Laras. Seperti juga gado-gadonya. Enak, wangi, gurih. Pendeknya lezat. Membuat nafsu makanku sedikit bangkit.

Dari pembicaraan yang berputar di sekitar meja makan besar itu, aku tahu bahwa hari ini kami akan punya kegiatan dalam kelompoknya sendiri-sendiri. Om Nor dan Endra akan berenang. Kakung dan Kania akan ke toko buku. Sedangkan Uti, Tante Laras, dan aku akan memanjakan diri seharian di rumah spa milik teman Tante Laras.

* * *

Hari pertama masuk di Eternal Rubberplast tampaknya tidak terlalu berat bagiku. Apalagi aku sudah jauh lebih segar dan siap tempur daripada minggu-minggu terakhir kemarin. Kenyataan bahwa aku akan berada di bawah Mas Hasto dan Om Nor membuat perasaanku lebih ringan dan pikiranku bergerak ke arah yang lebih positif.

Ketika jam kerja dimulai, Om Nor mengumpulkan semua staf mulai leader ke atas di ruang rapat. Di situ beliau memperkenalkan Mas Hasto dan aku sebagai ‘orang baru biasa’ yang mungkin kelak akan memimpin Rubberplast. Saat ini masih dalam taraf belajar dan memahami keseluruhan Rubberplast dari hulu ke hilir.

Setelah itu Om Nor membawa kami ke kantornya di lingkungan Rubberplast. Sama seperti yang pernah dilakukan oleh Kakung padaku, Om Nor menjelaskan hingga mendetail segala sesuatu yang berhubungan dengan Rubberplast. Mulai dari para personal pentingnya, divisi-divisi yang ada, proses produksi, hingga ke masalah pemasaran.

Penataran itu terjeda sebentar saat jam makan siang tiba. Om Nor mengajak kami makan siang, lagi-lagi ke sebuah rumah makan kecil dan sederhana di sekitaran kantor Rubberplast. Mataku melebar melihat daftar harga murah meriah dalam kartu menu. Tampaknya sebuah pilihan yang cocok dengan keuanganku sebagai kroco di Rubberplast.

“Di sini makanannya cukup enak,” celetuk Om Nor. “Tempat dan penyajiannya juga bersih. Enak tak harus mahal.”

Mas Hasto dan aku segera menyetujuinya.

Sambil menikmati makan siang dengan cukup santai, Om Nor membicarakan banyak hal. Terutama harapannya terhadap Rubberplast. Juga harapannya terhadap kami. Aku sendiri merasa jauh lebih nyaman menjalani ‘penataran’ dengan cara seperti ini. Sehingga hal-hal baru yang memang harus kuketahui nyantol lebih banyak ke otakku.

Satu hal yang tiba-tiba saja kusadari. Bahwa aku jauh lebih bersemangat karena sudah lebih dulu menemukan perasaan nyaman itu. Agaknya seperti itu juga yang dirasakan Mas Hasto. Diam-diam aku merasa bahwa energi dan ‘frekuensi’-ku bergerak dalam irama yang selaras dengan Mas Hasto. Rupanya Om Nor bisa menangkap kecenderungan itu dengan baik, hingga memutuskan untuk memasangkan kami sebagai partner untuk belajar bersama.

Harus kuakui, naluri Om Nor memang benar-benar hebat dan sangat terasah!

* * *

“Kamu sudah dapat berkas laporan dari Plast, Ri?” Mas Hasto menatapku.

Aku mengangguk. “Lima menit lalu sudah kukirim ke email Mas Hasto.”

“Sip!” Mas Hasto mengacungkan jempolnya. “Berkas dari Rubber akan dikirim oleh Pak Adnan setelah jam makan siang. Nanti akan langsung kukirim ke email-mu.”

“Oke!” ganti aku yang mengacungkan jempol.

“Kamu mau makan siang di sebelah?” Mas Hasto sekilas menatap arlojinya.

Aku menggeleng. “Kayaknya di kantin saja, deh, Mas. Jam satu tet sudah janjian sama Pak Heddy untuk berangkat ketemu klien.”

“Oh...,” Mas Hasto manggut-manggut. “Ya, sudah! Ayo, makan dulu. Aku ikut saja ke kantin.”

Hari ketiga di Rubberplast, aku sudah benar-benar beradaptasi dengan ritme yang berlaku di dalamnya. Para staf senior menerima Mas Hasto dan aku dengan baik. Kuncinya cuma satu. Menghargai mereka dan menempatkan diri sebagai kroco yang masih harus banyak belajar. Maka mereka tak akan segan untuk membagikan ilmu dan berbagai pelajaran penting lainnya. Mereka dihargai, maka mereka akan balik menghargai. Sebuah hukum tarik-menarik dan sebab-akibat yang sederhana saja, tapi maha penting. Tak pernah ada yang mengajari kami secara khusus tentang itu. Tapi kami sudah terbiasa melihat sendiri dan berada dalam praktiknya secara langsung. Di dalam keluarga besar kami.

“Mbak Riri, coba untuk bikin laporan tentang pertemuan kita dengan klien tadi, ya?” ucap Pak Heddy saat kami sudah tiba kembali di kantor menjelang pukul empat sore. “Formatnya yang umum saja, asal detailnya rinci.”

“Baik, Pak,” anggukku. “Saya setor kapan?”

“Besok sore saja. Jadi kerjaan Mbak Riri seharian besok, ya, itu. Kalau masih ada revisi bisa Mbak Riri lanjut kerjakan Jumatnya. Asal sudah siap untuk dibahas dalam meeting perencanaan Senin pagi.”

“Siap, Pak!” tegasku.

“Sampai ketemu besok, Mbak Riri,” Pak Heddy berbelok ke arah ruangan kantornya.

“Sama-sama, Pak,” aku pun berjalan lurus ke arah tangga untuk menuju ke ruanganku di lantai dua.

“Maaf, Mbak Riri,” tiba-tiba saja seorang resepsionis mencegat langkahku.

“Iya, Mbak Kus?” aku mengerutkan kening.

“Ada tamu yang cari Mbak Riri. Sudah menunggu sejak jam tiga tadi.”

“Hah?” aku sedikit ternganga.

“Sudah saya bilang Mbak Riri masih keluar ketemu klien, tapi ibu itu memaksa untuk menunggu sampai Mbak Riri datang.”

“Siapa, ya, Mbak Kus?”

“Ibu Arsita. Sekarang menunggu di ruang tamu lobi timur.”

Sepotong nama yang membuat jantungku seketika berdebar kencang.

* * *


12 komentar: