Senin, 13 Juni 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #7





Sebelumnya



* * *


Tujuh


Entah sejak kapan aku menyukai keheningan malam seperti ini. Yang jelas, aku benar-benar tenggelam di dalamnya. Saat harus kubebaskan pikiranku mengembara dan merangkai kembali keping-keping peristiwa yang pernah berlalu dalam kehidupanku.

Sedih karena kehilangan Otto? Ya. Aku masih merasakannya. Walaupun jauh dalam lubuk hati, aku sudah benar-benar mengikhlaskan kepergiannya. Merasa sakit karenanya? Ya. Tapi sama sekali bukan karena Otto menyakitiku. Hingga saat-saat terakhirku bersamanya, ia sama sekali tak pernah menorehkan luka itu di hatiku. Segores tipis pun. Selama ini aku sudah berusaha untuk melepaskan semua beban di hatiku. Berusaha memberikan ketenangan pada jiwa Otto dan diriku sendiri. Mengenangnya dalam setiap rasa manis yang pernah kucecap bersamanya.

Masih ada lubang yang besar dalam hatiku. Belum tertambal dengan sempurna. Lubang yang masih sering mempengaruhi otakku. Sehingga terkadang aku sendiri merasa bahwa aku jadi jauh lebih telmi sejak Otto tiada.

Pada saat seperti ini tiba-tiba saja kilasan-kilasan peristiwa yang pernah kualami berkelebat begitu saja dalam benakku. Peristiwa yang membuatku sebenarnya menyimpan tanya di bawah sadar. Yang kini mendadak saja terpikir kembali. Dan terangkai dengan peristiwa lain yang bersinggungan dengan diriku.

Irvan...

Entah kenapa sosoknya mendadak menyusup begitu saja ke dalam pusaran yang bermain dalam benakku.


“Penampilan Hide tak berubah,” begitu ucapnya dengan suara lirih. “Tetap bagus seperti dulu.”


Dan begitu saja tersambung pada obrolanku dengan Hide. Tentang rendang, Irvan di KBRI. Tentang...


“Iya, aku tahu,” gumam laki-laki tinggi besar itu, mengalihkan tatapannya dari Alessandro ke arahku. “Tapi apakah Mbak-nya mau?”


Aku terhenyak kini. Oh my... Jadi ia sebenarnya sudah tahu siapa aku? Atau setidaknya ia mengenalku? Tapi siapa Irvan? Aku terpaksa menggeleng. Aku benar-benar tidak tahu. Dan sungguh, aku tidak menyukai kondisi ini. Buta sesaat. Meraba-raba dalam gelap. Tentang seorang Irvan.

Lalu Ale...

Bule yang ketampanannya setara dengan Otto itu sayangnya belum bisa menggoyahkan hatiku. Dan memaksanya untuk menelan kekecewaan. Astagaaa... Aku ini sebetulnya manusia atau iblis betina?

Tapi dari mana ia tahu soal Otto? Sepertinya aku belum pernah bercerita apa pun soal Otto padanya. Hm... Rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak beres di sini! Dan sumbernya hanya satu. Ke-telmi-anku.

* * *

Mas Hasto menjemputku beberapa menit sebelum pukul sepuluh keesokan paginya. Ia tampak ganteng dengan celana jeans dan kemeja kotak-kotak merah-biru yang lengan panjangnya digulung sampai ke siku. Semalam aku sempat mengiriminya pesan singkat, bertanya tentang dress code. Mas Hasto mengatakan bahwa acara pembukaan restoran itu acara santai saja. Jadi aku memutuskan untuk memakai sehelai gaun batik berwarna dasar coklat-oranye cerah, dengan model lonceng dari pinggang ke bawah. Lengan gaunku pun berbentuk lonceng. Untuk melengkapi penampilan, kukenakan seuntai kalung dan anting mutiara. Plus sepasang sepatu suede berhak lima sentimeter berwarna coklat-oranye, sewarna dengan tas kecilku yang hanya berisi dompet dan ponsel.

“Oke, aku siap!” seruku begitu muncul di ruang tengah, tempat Mas Hasto menunggu sambil mengobrol dengan Kakung dan Uti. Tak lupa aku menenteng sebuah dos.
                   
“Itu apa?” tunjuk Mas Hasto.

“Cenderamata buat istri Hide,” jawabku. “Pulang dari acara langsung ke hotelnya saja.”

Mas Hasto menyetujui tanpa banyak cingcong. Setelah berpamitan pada Kakung dan Uti, Mas Hasto segera mengangkat dos itu menuju ke mobilnya yang terparkir di carport. Tak lama kemudian kami sudah meluncur membelah jalanan Jakarta.

* * *

“Jujur, ya, Pluk? Kamu betah berada di Eternal?”

Aku menoleh sekilas. Mas Hasto tampak serius dengan kemudinya.

“Betah,” jawabku kemudian, “walaupun masih terus berusaha untuk menyesuaikan diri. Kenapa memangnya?”

“Kelihatannya kamu menyimpan beban,” gumam Mas Hasto dengan tatapan tetap lurus ke depan.

Kuhela napas panjang.

“Atau ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan Eternal?”

Aku kembali menghela napas panjang. Pelan-pelan, kuceritakan apa yang kualami semalam bersama Ale. Juga tentang semua yang kurasakan dan berhubungan dengan Ale dan Otto.

“Ale dan Otto berbeda, Mas. Aku sama sekali nggak pernah membandingkan keduanya. Tapi rasaku juga nggak bisa sama,” kututup penuturanku.

“Dan kamu merasa bersalah karena sudah merasa menyakiti Ale?” celetuk Mas Hasto.

“Ya,” anggukku.

“Jangan, Pluk,” Mas Hasto sekilas menggeleng. “Jangan pernah merasa bersalah. Jangan bebani dirimu sendiri. Kamu, toh, tak pernah memberi harapan lebih padanya.”

“Iya, sih...”

“Nah! Cinta yang dinyatakan itu, salah satu resikonya adalah ditolak,” Mas Hasto membelokkan kemudinya, masuk ke halaman parkir sebuah kompleks ruko. “Aku pikir sebagai laki-laki dewasa Ale sudah memahami hal itu. Jadi, buang semua rasa bersalahmu. Cinta itu nggak bisa dipaksakan hadirnya. Sekarang, aku mau melihat senyummu yang paling manis dan wajahmu yang paling cerah.”

Aku tertawa mendengar akhir kalimat Mas Hasto.

“Begitu lebih baik,” Mas Hasto tertawa juga. “Jadi aku nggak akan dituduh menculik cucu Kakung dan Uti yang paling nyempluk ini untuk menemani ke sini.”

Tawaku makin lebar. Tangan kiri Mas Hasto menepuk kepalaku dengan lembut. Ia kemudian menggandeng tanganku dengan erat ketika menyeberangi tempat parkir yang cukup luas itu.

Godhong Gedhang...

Aku tersenyum ketika membaca nama restoran yang baru dibuka itu. Sedikit banyak aku memahami artinya. Daun pisang.

“Temanmu di mana, sih, Mas, yang punya? Nama restonya gitu amat?”

“Teman SMP-SMA-ku,” senyum Mas Hasto. “Kamu kenal, kok. Tuh, dia!”

Dan mataku seutuhnya dapat menangkap sosok tinggi besar berseragam koki putih bersih yang berdiri di samping pintu masuk restoran. Wajahnya tampak cerah menyambut undangan yang berkenan menghadiri pembukaan restorannya.

“Mas Irvan?”

“Nah! Kenal, kan?”

Jadi selain piawai bermain violin, ia juga seorang chef? Bukan sembarang chef karena ia kini punya restoran sendiri! Oh my...

“Dia lulusan Le Cordon Bleu,” gumam Mas Hasto.

“Mana?”

“Aussie. Adelaide.”

Mata rantai yang terputus selama ini di benakku mendadak tersambung dengan sendirinya. Pantas...

“Tok!” wajah Irvan tampak cerah ketika menjabat tangan Mas Hasto. “Sama Riri? Mana Menik?” Ia kemudian ganti menjabat tanganku.

“Lagi ke Jogja, Van,” jawab Mas Hasto. “Makanya aku ajak Riri.”

“Oh... Ya, ya... Eh, ayo, masuk! Masuk! Nanti kita ngobrol di dalam, ya?”

Sesuai dengan namanya, restoran ini sangat Jawa dari segi interior dan suasana. Tampaknya menyasar keluarga dan para eksekutif muda yang berkantor di sekitar tempat ini. Nyaman, santai, dan menenangkan, karena ada alunan lembut gendhing Jawa walaupun bukan secara live. Makanan yang ditawarkan dalam buku menu adalah makanan Nusantara, bukan hanya tradisional Jawa.

“Hebat, dia!” Mas Hasto berdecak sambil menggelengkan kepala. “Akhirnya terwujud juga mimpinya punya restoran sendiri.”

“Ya, wajarlah kalau dimodali sama orang tuanya,” timpalku pelan. “Kelihatannya dia anak orang kaya.”

“Nggak semudah itu, Pluk,” Mas Hasto kembali menggeleng. “Biarpun sumbernya dari orang tua, tapi semuanya ini statusnya pinjaman. Harus lunas dalam jangka waktu yang cukup pendek. Cuma tiga tahun. Irvan bertaruh banyak di sini. Kalau dia kalah, dia harus masuk ke perusahaan ayahnya. Dan kamu tahu siapa ayahnya?”

Tentu saja aku menggeleng! Mas Hasto ini aneh. Memangnya aku harus kenal siapa saja ayah teman-temannya?

“Banyu Wibowo.”

Aku hampir saja tersedak. Banyu Wibowo? Raksasa media itu? Pemilik perusahaan penerbitan dan jaringan toko buku besar, beberapa media cetak, jaringan radio, dan beberapa stasiun televisi? Aku paham seketika.

Tidak semua pengusaha seperti Kakung yang membiarkan putra-putrinya untuk memilih jalan sendiri dalam meniti masa depan. Walaupun masih juga ada seorang yang nyangkut di Eternal dan menjadi pengganti Kakung, tapi aku tahu itu sama sekali bukan paksaan.

Dan yang pernah aku dengar, Banyu Wibowo bukanlah orang seperti Kakung. Bahwa Irvan berhasil membobol tembok itu, bagiku sudah merupakan pesona tersendiri.

Eh? Apa? Pesona?

Huh! Makin error saja aku ini!

* * *

Dengan senyum semanis mungkin, aku meminta Mas Hasto meninggalkanku di hotel setelah mendapat kepastian bahwa Hide sedang berjalan keluar dari kamarnya untuk menemuiku di lobi hotel. Ia tetap menatapku dengan tak yakin. Ditunggunya sampai aku benar-benar selesai menelepon Kakung agar mengirim Pak Wahid untuk menjemputku sejam lagi. Kakung memahami alasanku, bahwa aku butuh waktu pribadi bersama Hide sekaligus tak mau membuat Mas Hasto menjadi obat nyamuknya.

Akhirnya Mas Hasto meninggalkanku. Hampir bersamaan dengan Hide yang muncul dari balik pintu lift. Sejenak kemudian, kunikmati ekspresi wajah Hide ketika menerima bingkisan dariku untuk Ai. Berkali-kali ia membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih. Wajahnya terlihat begitu cerah.

“Kamu ada acara saat ini?” tanyaku.

Hide menggeleng.

“Mau ke coffee shop sebentar?”

Ia mengangguk.

Tak lama kemudian kami sudah duduk berhadapan berbatasan meja di dalam coffee shop hotel. Ia menatapku. Seolah mulai memahami bahwa ada hal penting yang aku ingin sampaikan padanya. Setelah selesai urusan memesan minuman dan kudapan, aku pun menatapnya.

“Hide, sejauh apa kamu mengenal Irvan?”

“Ah...,” Hide mendesah sambil menyandarkan punggungnya. “Jadi kamu benar-benar tak mengenal Irvan?”

Aku menggeleng dengan putus asa. Hide menatapku. Serius.

“Aku pernah mengatakan padamu, Arinda, aku jadi doyan rendang karena Irvan. Rendang buatannya juara.”

Aku terhenyak. Salah satu rendang paling enak yang pernah kurasakan seumur hidupku adalah rendang yang terhidang di KBRI di Canberra saat ada acara khusus. Selama ini kupikir rendang itu dimasak oleh ibu-ibu di KBRI. Ternyata...

“Belum lagi masakan Indonesia lainnya. Nasi goreng. Ah... Dia hebat, Arinda!”

“Aku baru saja menghadiri pembukaan restorannya,” ujarku lirih. “Kamu benar, Hide, dia hebat.”

“Dia membuka restoran?” wajah Hide tampak kecewa. “Kenapa tidak memberitahuku, Arinda?”

“Maaf, Hide,” sesalku. “Aku pun baru tahu ketika sudah sampai di sana siang ini tadi. Dia salah seorang teman sepupuku.”

“Sayang besok aku sudah harus pulang,” desah Hide.

Hm... Aku berpikir sejenak.

“Kamu ada acara sore ini?” kemudian kutatap Hide.

Hide menggeleng.

“Kamu mau kuajak ke sana?”

Really?

“Tapi coba aku telepon sepupuku dulu, apakah restoran Irvan buka sore nanti.”

Hide langsung mengangguk dengan wajah antusias.

* * *

Sorenya, Hide sudah menunggu di lobi hotel ketika aku kembali lagi untuk menjemputnya. Sebelum hari benar-benar gelap, Pak Wahid sudah membelokkan city car-ku ke area parkir di depan deretan ruko tempat Godhong Gedhang berada.

“Sepi?” Hide mengerutkan kening sambil keluar dari mobil.

“Hm... Sebenarnya sudah tutup,” jawabku. “Tapi Irvan sengaja membukanya hanya untukmu. Untuk kita.”

Oh my...,” desah Hide.

“Pak Wahid, ayo, ikut masuk,” aku menoleh ke arah Pak Wahid.

“Saya tunggu di sini saja, Mbak,” tolak Pak Wahid, halus. “Nanti saya malah mengganggu.”

“Jangan! Ayolah, Pak. Meja di dalam banyak, kok. Ayo!”

Walaupun dengan wajah terpaksa, Pak Wahid tak lagi menolak ajakanku. Irvan menyambut kami dengan hangat. Wajahnya terlihat cerah walaupun ada gurat-gurat kelelahan di dalamnya.

“Hide!” sapanya bersemangat. “Maaf, Teman, aku lupa mengundangmu.”

“Tak apa,” senyum Hide. “Aku tahu membuka restoran bukanlah hal ringan. Kamu harus memikirkan semuanya.”

“Ayo, kalian mau makan apa?” Irvan menggiring kami ke sebuah meja untuk berempat di sudut.

“Pak Wahid, mau ikut atau duduk sendiri?” aku menengok ke belakang.

“Sendiri saja, Mbak.”

“Pak, pilih saja tempat duduknya,” ucap Irvan, ramah. “Nanti aku suruh anak-anak melayani Bapak.”

“Aduh... Nggak usah repot-repot, Mas,” Pak Wahid terlihat rikuh menerima perlakuan itu.

“Nggak apa-apa, Pak,” senyum Irvan. “Bapak santai saja di sini.”

Sejenak kemudian kami sudah tenggelam dalam obrolan yang menyenangkan. Sebenarnya, menyenangkan bagiku karena aku turut merasa gembira mendengar cerita-cerita keduanya saat masih sama-sama di Australia dulu. Tapi terselip juga perasaan geli yang cukup menyedihkan. Bagaimana mungkin aku bisa sama sekali tak pernah mengenal sosok Irvan?

Dan Hide tampak sekali menikmati nasi goreng yang dimakannya dengan rendang. Perpaduan yang aneh, aku yakin, tapi wajah Hide tampak puas ketika tiap kali memasukkan sendok beserta isinya ke dalam mulut.

“Hm... It’s really... really...,” Hide tampak kesulitan menemukan kata yang tepat. “Hm... So perfect!

Irvan tertawa mendengarnya. Wajahnya tampak dipenuhi cahaya yang aku tak mampu menerjemahkannya. Hanya satu hal yang bisa kutangkap dan kumaknai. Passion. Ekspresi seseorang yang sudah menemukan rumahnya. Sebetulnya aku heran, kalau ujung-ujungnya ‘hanya’ membuka restoran khusus masakan Indonesia di Jakarta, kenapa harus jauh-jauh kuliah hingga ke Australia?

Lalu tiba-tiba saja ia menatapku. Membuat aku gelagapan seketika.

“Ada rasa yang kurang barangkali, Ri?” tanyanya.

“Hm...,” aku menggeleng.

Sungguh, aku tak menemukan cacat-cela dari soto mie yang kumakan. Baik porsi maupun kelezatannya sangat sempurna bagiku. Tapi sepertinya Irvan sedang menunggu jawaban yang bukan hanya sekadar ‘hm...’ saja.

“Jujur,” jawabku, akhirnya, “aku sudah lupa kapan terakhir makan soto mie. Tapi jujur lagi, soto mie ini enak sekali.”

Irvan mengembangkan senyumnya. Senyum hangat yang membuatku memberanikan diri untuk mengeluarkan tanya yang sedari tadi sudah bercokol  di kepalaku.

“Mas, boleh aku tanya?”

“Ya?”

“Kalau ‘hanya’,” kedua jari telunjukku mengkodekan tanda kutip, “untuk membuka restoran dengan menu tradisional Indonesia, kenapa harus sekolah di Australia?”

Dan Irvan menjawabnya dengan senyuman, “Aku butuh ‘ilmu kelas dunia’-nya, Ri. Sekaligus menjalin jaring hubungan dengan teman-temanku ex Le Cordon Bleu dalam lingkup internasional.”

Sesuatu yang sangat membuka pikiran cupet-ku. Secara kasat mata, memang apa yang dihidangkan oleh restoran ini sangat melaparkan mata. Setiap hidangan disuguhkan dengan penampilan sangat menarik. Benar-benar memenuhi standar kelas dunia di mataku. Selain itu, aku bisa melihat sekaligus merasakan bahwa Irvan benar-benar serius menekuni apa yang menjadi passion-nya. Tak ada bau main-main dalam hal ini.

“Aku baru mulai. Belum tahu apakah selanjutnya akan berhasil,” Irvan mengangkat bahu.

“Kamu akan berhasil,” sahut Hide, terdengar mantap.

“Seyakin itu?” Irvan tertawa ringan.

Of course!” Hide mengedipkan sebelah mata. “Termasuk mendapatkan gadis yang kamu cinta.”

“Hide...,” Irvan menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tak berani berharap.”

“Berharaplah,” Hide lurus menatap Irvan. “Percayalah padaku.”

Irvan menghela napas panjang. Dengan senyum tipis masih tertinggal di wajahnya. Sejujurnya, pembicaraan antara Hide dan Irvan yang terjadi baru saja ini tak kumengerti. Sedekat itukah ternyata Hide dengan Irvan?

“Oh, ya, Ri,” Irvan mengalihkan tatapannya padaku. “Aku belum mengundang Kopimusik untuk hadir di sini. Tempat ini terbatas. Bisa tidak, aku titip pesan padamu? Besok seusai konser di taman, tolong, ajak semuanya ke sini. Akan aku siapkan sarapan.”

“Oh... Oke!” seruku antusias.

“Bubur ayam?” Hide tiba-tiba menyeletuk.

“Mau bubur ayam?” Irvan tergelak. “Ikutlah besok ke sini.”

“Boleh?”

“Tentu saja!”

“Pesawatmu terbang jam berapa?” tanyaku.

“Jam tiga siang.”

Aku dan Irvan bertatapan sejenak. Menghitung.

“Cukup?” aku mengerutkan kening.

“Cukup,” Irvan mengangguk pasti. “Asal ada mobil yang bisa mengantarkannya kembali ke hotel.”

Aku menoleh sekilas pada Pak Wahid. “Serahkan saja padaku.”

* * *




18 komentar:

  1. Demi Miss Wirahadi and co harus banyak bersabar mencapai Kamis... Sesakit itukah?

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Yup! 😋
      Sedikit-sedikit... Pelan-pelan... 😎

      Hapus
  3. Good post mbak, kapan jadi buku ,saya nomor 1 pesan he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Makasih, Pak Subur 😊
      Untuk buku, ambegan dulu...

      Hapus
  4. Selalu menghadirkan cerbung bagus tiap Senin-Kamis. Lanjutkan cerbung Miss Cempluk-nya ^^

    BalasHapus
  5. Bakalan jadian sama Irvan kayaknya ya miss cempluk kita ini :) :)

    BalasHapus
  6. Sakjako wis ngerti ujunge.
    Tapie pancet penasaran ........
    Cumak mba Lis sing isa gaboseni gini !

    BalasHapus
    Balasan
    1. koncoe sopo sek a ma :p
      #minggat inclik nimbange diuncali bom getuk

      Hapus
    2. @Nita : eike jadi maluuu 😳😳😳

      @Kenyut : ngobrole mbek nyonyah ndek omah ae rek... 😝😝😝

      Hapus
  7. Keren, slalu Mbak Lis.
    Aku sambil belajar loh, menyimak cara menyajikan cerita yang apik. Tx. Mbak Lis.

    BalasHapus